My 1st Nov..

Friday, October 07, 2005

Bab IV

Bab IV
So, the truth is …
(a monologue for myself)


I’ve been wondering.

Beberapa waktu terakhir ini aku sedang memikirkan perasaanku. Perasaanku terhadap Keiza. Sekarang sudah lebih 6 bulan sejak kepergian Reo, dan berarti 4 bulan aku mengenal Keiza. Dalam 2 bulan terakhir, aku jadi sering jalan dengannya. Ia kadang-kadang menawarkan diri untuk mengantarku pergi, atau pulang dari kampus. Atau kadang-kadang ia mengajakku pergi menemaninya jalan-jalan. Ngga selalu berdua sih, kadang-kadang dengan Al, atau dengan Maia dan Najma. Oh ya, saat ini dia kan pengangguran, paling hanya mengurus Ice Cream&Brownies Corner-nya saja. Dari semua yang kulihat, kualami dan kurasakan, kayanya aku menemukan suatu fenomena baru. Aku baru menyadari kalau ternyata Keiza sudah masuk sebegitu dalamnya di kehidupanku. Dalam beberapa bulan terakhir ini, ia menerobos masuk jauh ke dalam kehidupanku, dan herannya, aku tidak menghindar, bahkan tidak berusaha untuk itu. Payahnya lagi, selama ini aku tidak sadar. Dan, BUM! Sekarang kaya dijatuhin bom.. tiba-tiba menyadari semuanya.

Selama ini, apalagi semenjak kematian Reo, tidak ada cowok yang dekat denganku. Hump, kecuali Al ya.. Setiap ada cowok yang berusaha masuk ke dalam hidupku, aku langsung jaga jarak. Menghindar. Ya contoh konkretnya kaya Andry. Kadang-kadang nggak tega sih, tapi begitu aku mulai bisa membaca tanda-tanda mau kemana arah hubungan itu, aku langsung menarik diri. Kan aku sudah bilang, I’m not in the mood for relationship. For now.

Tapi dengan Keiza beda rasanya. Yah, salah satu faktornya mungkin karena memang Keiza tidak ada maksud untuk PDKT. But, who knows? Dalamnya laut dapat diduga, tapi dalamnya hati siapa yang tau sih? Aku tidak mau berprasangka dengan Keiza, tapi curiga sedikit boleh dong.. hehe.. (atau ini ngarep ya?) Tapi sebenarnya sejauh ini, nggak ada tanda-tanda yang obvious, jelas dan tegas bahwa selama ini Keiza memang niat buat PDKT. Jadi aku men-stop pikiranku supaya tidak memikirkan hal itu lagi. Berhasil? Kita lihat aja nanti..

Yang jelas, dengan Keiza aku merasa beda. Dia emang orang baru dalam hidupku, tapi rasanya aku sudah mengenal dia seumur hidupku! Bukan bermaksud untuk membanding-bandingkan, tapi rasanya memang beda kalau misalnya aku bersama Al (dengan cowok yang satu ini aku mungkin sudah lupa bagaimana rasanya mempunyai perasaan, hehe..) atau bahkan ketika bersama Reo sekali pun! Rasanya beda banget.

Dengan Keiza, aku ngerasa.. Ngerasa apa ya? Apa ya kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaanku? Susah nih, apalagi vocabulary bahasa Indonesiaku agak terbatas, terutama untuk bahasa yang baik dan benar. Kebanyakan gaul dengan Maia dan Najma membuat perbendaharaan kata dalam bahasa yang baik dan benar menjadi semakin berkurang. Bahasa mereka berdua kacau berat. Pokoknya, selama orang lain mengerti apa yang mereka maksud, itu udah cukup, hehe..

Comfort.

Mungkin itu kata yang paling mendekati untuk menggambarkannya. Tapi, ya itu tadi, comfortnya beda dengan comfort yang aku rasakan bareng Al atau Reo. Dengan Keiza rasanya semua lebih bebas. Dan lepas. Nggak ngerti ya? Sama, aku juga nggak ngerti. Bingung banget deh pokoknya.

Apa mungkin sebenarnya perasaan comfort yang beda itu timbul karena aku punya perasaan yang lebih kepada dia?

Hah? Wait, wait,wait… tadi aku ngomong apa? Perasaan lebih ke Keiza? Nggak deh. Kayanya nggak. Ngaco deh. Aku memang punya perasaan ke dia, tapi kayanya bukan perasaan yang kaya gitu deh.. (Engg.. tapi kok tiba-tiba aku nggak yakin ya?)

OK! Mungkin Keiza memang bukan tipe cowo yang dapat dikatakan menarik dengan hanya sekali lirik. Mungkin dia juga bukan tipe cowo idaman most of girls, yang tinggi, putih, ganteng. Tapi dia bisa dikatakan sangat menarik setelah menghabiskan 2 jam ngobrol bersamanya. Apalagi menghabiskan seharian dengannya. Keiza selalu nyambung dengan semua tema yang aku bicarakan, dari pelajaran, buku, film, politik (?) sampai trend fashion cewe! Pengetahuannya sangat luas, dan sepertinya dia menguasai betul apa yang dibicarakannya. Tipe cowo smart! Mungkin jika aku ikut kuiz Who Wants to be a Millionaire, aku akan memilih dia untuk pilihan phone a friend.

Tapi di sisi lain, dia juga tipe cowo jayus. Dia selaluu saja bercanda, melucu, dan bertingkah laku konyol. Seperti misalnya ketika di suatu rumah makan, dia bertanya kepada pelayannya, “Mas, ada jus alpukat ga?” Ketika sang pelayan mengangguk dan menjawab, “Ooh, ada mas!” Tiba-tiba Keiza berkata, “Oh, klo gitu saya pesen es teh manis aja deh satu..” Geblek kan? Atau ketika dia membeli roti di warung pinggir jalan, ia menyerahkan uang seribu kepada penjualnya sambil berkata, “Nih bu, ambil aja kembaliannya..” Padahal di plastik roti itu jelas-jelas tertulis ‘Harga Rp.1000’. Parah deh dia, cuek banget.

Tapi bukan berarti dia cuek terhadap semua hal lho, dia itu punya rasa sosial yang tinggi. Buktinya ia selalu memberi uang pengamen dan pengemis di jalan, bahkan penjual di jalan yang menurutnya mukanya memelas pun ia berikan uang, tanpa membeli barang jualannya! Ia juga selalu meninggalkan tip di tempat makan, tak peduli restoran bagus atau di warung nasi uduk pinggir jalan, karena menurutnya tip itu sangat berharga bagi para pekerja di tempat makan itu.

Di sisi yang lain lagi, dia juga suka mengirimkan poem-poem via sms, atau sms-sms seperti ini,

`God is so wise that He never created friends with pricetags, because if he had, I could never have afforded a PRECIOUS ANGEL LIKE YOU!`

atau

`When it hurts to look back..
and u r scared to look ahead..
Just look beside u.. Coz I’ll always be there 4 u..`

Itu berarti tipe cowo apa ya? Romantis? Apa gombal ya? Hehe.. Tapi dia sering sms ga penting juga sih. Jayus seperti biasa. Waah, pokoknya dia bisa jadi tipe cowo yang berbeda-beda deh. Tapi dari semua kepribadian Keiza yang ku tahu itu, yang paling aku suka dari Keiza adalah karena dia alim dan a positive person. Alim karena dia selalu mengajakku shalat sesegera mungkin setelah adzan, kalau pun di jalan, ia pasti mampir ke mesjid or mushalla terdekat. Dan dia juga hampir selalu berpuasa hari senin dan kamis. Keren kan? Jarang banget bisa nemu cowo kaya gitu di Jakarta! Dan positive person karena dia tipe orang yang selalu berpikir positif, terhadap apa pun, even if itu musibah untuk dia. Udah gitu, dia juga seakan punya karisma untuk mempengaruhi orang hanya dengan kata-katanya. Misalnya dia dapat menenangkan aku setelah aku ujian Moneter 2 -yang soal-soalnya membuatku stress berat!-, dan dia juga sepertinya memancarkan aura kebahagiaan, karena setiap bersamanya, tak peduli bagaimana suasana hatiku sebelumnya, dalam 10 menit pasti akan berubah menjadi senang, setidaknya dia selalu dapat membuatku tertawa dalam 3 menit.

Oh ya, satu hal lagi yang paling aku suka dari Keiza, dia tidak merokok!

Balik lagi ke perasaan beda tadi. Seperti tadi yang sudah sering kukatakan, aku tidak dapat menjelaskannya. Tapi yang pasti, aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, ke siapa pun juga, termasuk terhadap Reo! Yaaahh… beda! Rasanya beda banget dengan waktu aku dan Reo mulai saling berPDKT. We had chemistry. Setiap melihat, bertemu, bersama-sama Reo selalu ada kupu-kupu yang memenuhi perutku. Tapi aku tidak merasakan hal yang sama dengan Keiza. Nggak ada tuh kupu-kupu di perutku setiap ketemu Keiza. Yang ada cengiran-cengiran lebar gara-gara kejayusannya.

Aku percaya pada chemistry antar dua manusia. Nah itu yang tidak aku temui dan rasakan ketika bersama Keiza. Jadi, aku menarik kesimpulan bahwa aku tidak punya perasaan lebih ke Keiza. Wong, tanda-tanda alami itu nggak muncul kok..

Satu lagi, deep inside my heart, aku masih belum bisa dan masih belum rela jika tempat Reo di hatiku harus digantikan oleh orang lain. Pemikiran bodoh dan tolol memang, tapi aku tidak dapat menahan diriku untuk tidak merasa seperti itu. Reo was the perfect one for me. Aku tidak rela kalau ada orang, yang sebenarnya mungkin saja bisa lebih perfect, menggantikan tempat dia dihatiku. Aku merasa kalau hal itu terjadi, aku mengkhianati Reo. Dan aku benci banget pengkhianatan. Walaupun sebenarnya aku tahu bahwa I have to get over this as soon as possible. Tapi caranya bukan dengan mecari orang baru kan?

Aku mem-flashback pikiranku sejak pertama bertemu dengan Keiza. Pertama bertemu dengannya, di angkutan umum menuju kerumah, dia hendak ke rumah Al. Ia tidak mengendarai mobil karena ingin mengingat-ingat jalanan Jakarta coz dia baru pulang dari S2nya. Ia berhasil membuat orang sebelahnya untuk mematikan rokoknya, kesan pertama yang keren.

Kemudian, dua bulan setelahnya tak ada kabar, tiba-tiba ia sms, dan langsung menawari menemaniku ke Gramedia. Selama perjalanan hari itu, dia berhasil membuat a very good impression.

Kemudian bertemu lagi tanpa sengaja di Carrefour, yang membuatku agak heran karena dia beralasan membeli kripik kentang. Aku agak curiga kalau ia sudah merencanakannya, tetapi ternyata aku salah, karena ia berada di sana karena sedang mengurus Ice Cream Corner-nya. Aku benar-benar kaget ketika diberi tahu itu adalah tokonya.

Kemudian, sekali lagi tanpa sengaja bertemu di book fair, yang sekali lagi aku curiga Al telah mengaturnya. Ternyata, sekali lagi aku salah, karena yang menentukan pergi ke book fair hari itu adalah aku, dan sepanjang hari aku bersama Al dan ia tidak punya kesempatan untuk memberi tahu Keiza tanpa sepengetahuanku.

Dan terakhir, yang paling aku kaget, ketika mengetahui bahwa dosen tamu yang Maia dan Najma perdebatkan ternyata adalah Keiza. Uhm, well, sebenarnya siapa yang nyangka sih cowok kaya dia bisa jadi seorang dosen tamu? Emang sih udah S2, tapi dengan gayanya yang pecicilan seperti itu, siapa yang bisa ngebayangin? Bahkan Al sekali pun, saat aku beritahu bahwa Keiza menjadi dosen tamu langsung tertawa ngakak habis-habisan.

Baru kemudian Keiza menjelaskan mengapa dia bisa menjadi dosen tamu. Ternyata Pak Ferry, yang sebenarnya menjadi dosen mata kuliah itu, adalah saudara jauhnya. Dan beliau ingin supaya Keiza bagi-bagi pengalaman dan ilmu kepada mahasiswanya. Ternyata nggak sia-sia, kata Maia, anak-anak menjadi lebih excited. Dan, hampir semua yang ikut kelas itu, mengakui bahwa cara ngajar (atau transfer ilmu pengetahuan - istilah Pak Ferry) Keiza emang keren banget. Duh, jadi nyesel kenapa harus ngambil mata kuliah itu semester kemarin.. hehe..

Dan satu lagi, He really looked like different in his glasses. Beda deh, nggak kelihatan atau nampak kaya Keiza yang biasa, Keiza yang jayus dan pecicilan. Yaa gitu, kelihatan lebih intelek dan smart. Ternyata, dia sendiri mengakui bahwa emang sengaja pakai kacamata untuk menghasilkan imej seperti itu.. Namanya juga mau jadi dosen tamu, harus terlihat seperti itu lah.. biar disegani mahasiswa, hihi.. Males banget ya?

Pffph.. Lagi-lagi pikiranku melayang ke Keiza. Sudah dua hari dia nggak sms nih. Biasanya dia sering sms nggak penting yang jayus. Kemana ya, dia?

Duh, gini nih yang aku sebelin dari diriku.. Suka kangen kalau Keiza nggak sms atau nelpon. Mungkin sudah kebiasaan kali ya? Jadi begitu dia menghilang, rasanya kaya ada sesuatu yang kurang dalam hidupku (dan payahnya, hal ini nggak berlaku kalau misalnya Al atau Maia atau Najma yang bersikap seperti ini. Isn’t it weird?). Dan mulailah aku kelimpungan sendiri. Mau sms duluan tapi gengsi, tapi kalau nggak sms kok penasaran.. Mau sms tapi takut dikira punya perasaan lebih, tapi kalau nggak sms nanti malah uring-uringan sendiri. Susah emang. My heart has a mind of it’s own.

Tapi yang pasti, Keiza membuat banyak perubahan di dalam hidupku. Tidak terlalu kelihatan, memang. Tapi buatku itu berarti banget. Kaya misalnya dia kembali membuatku memandang dunia ini dengan positif, seperti yang selalu dia lakukan. Katanya semua yang terjadi di dunia ini pasti ada hikmah di baliknya. Klise dan emang pasaran sih, tapi ketika Keiza mengungkapkannya dan melihat bagaimana dia memaknai hidupnya dengan hal-hal kecil yang mungkin kita melihatnya tidak berarti, tapi ternyata hal-hal kecil itulah yang memberikan kebahagiaan hidup untuk dia. Aku belajar banyak banget dari dia. Cara dia memandang dan menjalani hidup beneran bisa membuat orang lain terkagum-kagum.

Dari situ aku merasa Tuhan mengirimkan seseorang untuk membantuku melewati masa-masa suram dalam hidupku, sampai akhirnya kini hidupku berwarna lagi.. Dikirim melalui Keiza. Yah, sukses banget. Buktinya sekarang aku seperti addicted dengan cowok itu. Suka kangen kalau nggak ketemu beberapa hari.. Ooops, confession deh..

Dan sejujurnya, sebenarnya aku benar-benar tidak tahu perasaanku gimana..

Kok tiba-tiba aku takut banget ya punya perasaan lain terhadap Keiza?

…. Jatuh cinta terhadap Keiza –dengan kepribadiannya yang sangat mengesankan- adalah hal mudah yang bisa dilakukan oleh siapapun..

…. Dan aku termasuk salah satu diantara orang-orang tersebut.

Damn, damn, damn.

Duh, sebenarnya ada ke-inkonsistensi-an di dalam hatiku nih..

Dilemma yang sangat besar.

…..

…..

…..

…..

…..

I have to admit that..

That

Kalau nggak mau membohongi diri sendiri dengan penyangkalan yang memakan banyak energi, aku harus mengakui bahwa…

bahwa…

aku punya perasaan lain terhadap Keiza.


Apakah aku harus mengakui perasaan ini dan menempuh segala resikonya? –mungkin aja kan Keiza nggak berperasaan sama denganku-

Atau apakah aku harus tetap seperti sekarang? I’m safe. Don’t do anything, then I’ll never get hurt again…

Astaga, aku rasa aku benar-benar sedang jatuh cinta…

So then, what am I suppose to do?


1 Comments:

  • At 9:23 PM, Anonymous Dilla Rosa said…

    Hi! Ehm, g lbh suka si Bapak Presdir. Yang ini alurnya agak lamban, trs knp ga dijelasin kenapa Reo mati? Eh, ato dijelasin? Dari tadi nyari2 sih ga ada. Trs kehilangan yg sangatnya Trisha ga kerasa. Alur kedekatannya ma Keiza lumayan, tp kyknya msh bisa dibikin lbh nyentuh. Gmn pas keilangan Reo,tiba2 muncul seseorang yg bisa menutupi rasa kehilangan itu and make the cloud go away...

     

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home