My 1st Nov..

Friday, October 07, 2005

Introduction..

Haaii...
Ini adalah blog gwe, yang memuat draft novel gwe.. tepatnya calon novel gwe deeng, hehe.. Novel ini sementara dihentikan pembuatannya, due to proyek gwe yang satu lagi, si pak presdir.. Lagian emang gwe masih bingung dengan kelanjutan cerita ini, apakah mending cerita tentang Keiza dulu, atau Al dulu.. Btw, klo belom tau, cerita ini merupakan cerita 3 babak [gwe bngarang tuh namanya!hehe..] yang berarti sepertiga bab awal itu bercerita tentang Trisha, lalu sepertiga tengah oleh cerita Keiza/Al, dan sepertiga terakhir pun demikian.. Tapi ceritanya nyambung.. yaa, gitu deh..

Anyway, dalam proses pembuatan novel ini [sampai bab 4 ini yang gwe buat taon lalu], gwe mau mengucapkan terima kasih buat Nina yang udah buaanyaak banget membantu gwe dalam penulisan cerita ini.. Hehe, udah kaya jadi novel, maen ngucap2in terima kasih..

Ya udah, have a good reading, mending sih save aja ke word biar ga mau ngabisin waktu pas OnLine..
Dan kalo emang mau komentar, saran atau kritik, silahkan saja, gwe mengucapkan terima kasih banyak sebelumnya.. Boleh komentar di tiap akhir bab, atau komen keseluruhan cerita disini.. ThanQue..

Bab I

- T r i s h a -

Bab I
It is very Hard to Lose Someone


Hari ini pemakaman Reo.

Aku menahan isak tangisku. Disebelahku, Al, berusaha menenangkanku dengan mengelus kepalaku.

“Stt, udah dong Sha.. Jangan nangis terus.. Kasian Reo-nya! Ntar dia ga tenang perginya..”

“Tapi Al.. Hiks,hiks.. Kenapa? Kenapa harus Reo?”

“Trisha, u know what? Every beginning has its end. Semua yang bernyawa pasti mati..”

“Iya Al, gwe tau.. Tapi kenapa Reo? Kenapa sekarang?”

“Hmph, klo itu gwe ga tau. Tuhan emang udah menakdirkan kaya gitu, jadi lo mesti nerima.. Ok Sha? Jangan nangis lagi ya.”

“Hiks.. Iya Al, gwe ngerti.. Kita pulang yuk! Tapi gwe pamit ke keluarga Reo dulu ya..”

Al mengangguk. Aku berjalan menuju ibu Reo, ia menangis dan memelukku, kemudian aku menjabat tangan ayah Reo dan pamit pulang. Sepanjang perjalanan pulang, di mobil Al aku diam saja.

`Cause I am hanging on every word you're sayin'

Even if you don't wanna speak tonight, that's alright, alright with me

Cause I want nothing more than to sit outside Heaven's door

And listen to you breathing, it's where I wanna be, yeah...

Where I wanna be...


Lagu Breathing Lifehouse mengalun di radio, dan aku kembali menangis. Kali ini Al diam saja, dan terus diam sampai didepan rumahku.

“Sha, udah nyampe. Mau gwe anter masuk?” kata Al tanpa ekspresi.

Aku menggeleng. “Ga usah Al, makasih.. Gwe duluan ya..”

Aku turun, membuka pintu rumah yang tak terkunci dan langsung berjalan menuju kamarku. Tangisku kembali tumpah, dan aku terus menangis sampai tertidur.

-xoxoxox-


“Trisha..!! Ada telepon nak,” teriakan mama dari bawah membangunkanku.

“Siapa ma?” tanyaku dengan suara agak serak.

“Al..”

“Iya ma, sebentar..”

“Halo.. Ada apa Al?” kataku setelah mengambil gagang telepon dimeja.

“Hmph, ga ada apa-apa sih. Gwe cuma mengkhawatirkan lo aja. Lo udah baekan?”

“Ooh.. Hmph, gwe udah ga-pa-pa kok! Thanx ya..”

“Hmm, bagus deh klo gitu.. Eh, besok lo mau kemana? Jalan-jalan yuk..”

“Aduh Al, maaf ya.. Gwe masih males kemana-mana..”

“Ooh, ya udah.. Ga-pa-pa kok! Eh, ya udah deh! Nyokap gwe manggil!”

“Ya udah.. OK deh, dagh Al.. Makasih ya..”

It’s OK. Ya udah dey, bye..”

Klik. Gagang telepon kukembalikan ketempatnya. Aku berjalan kekamar lagi.

“Trisha, makan dulu yuk nak,” kata mama yang tiba-tiba muncul dari arah dapur.

“Nggak deh ma.. Trisha lagi ga nafsu makan!”

“Trisha.. Kamu jangan sedih terus dong! Masa dari kemarin belum makan..”

“Trisha udah ga-pa-pa kok mah.. Tapi emang bener, Trisha ga laper..”

Mama hanya menghela nafas saja. Aku kembali kekamarku. Aku sudah tidak menangis lagi, aku menyetel CD Bon Jovi, band kesukaan Reo. Aku duduk didepan meja belajarku dan mulai menulis. Aku memang hobi menulis. Terutama jika sedang sedih seperti ini, aku menulis. Menulis apa saja, tapi biasanya aku menulis puisi. Dengan begitu aku bisa merasa lega.


I've got a reason to be sad,

I've got a reason to feel like I've been had,

Coz I’m now broken in a million pieces..


I feel like I can’t face one more mile

Coz I know you won’t be coming home again

It makes me feel so afraid of the unknown


Here I am..

Lying all alone staring at the star

Wishing you –


“Trisha.. Boleh mama masuk nak?” tiba-tiba mama muncul di pintu kamarku.

“Iya, boleh.. Ada apa ma?” aku berhenti menulis dan berjalan ke tempat tidurku.

“Nggak, mama cuma mau ngeliat keadaan kamu aja.” kata mama sambil duduk disebelahku.

“Trisha udah ga apa-apa kok ma, mama tenang aja..”

“Iya, mama tau.. Mama cuma kepingin berduaan aja sama kamu, kan udah lama kita ga ngobrol berdua.. Ya kan?”

Aku terdiam. Dulu waktu aku SMP dan SMU aku sering bercerita dengan mama setelah pulang sekolah atau setelah makan malam. Tentang apa saja; sekolah, teman-teman, gebetan atau pun pacarku. Tetapi sejak masuk kuliah aku jarang melakukannya lagi, bahkan hampir tidak pernah karena aku sering pulang malam dan terlalu capai untuk bercerita.

“Hmm, iya ya ma.. Trisha jarang cerita ke mama lagi sejak kuliah.” sadarku.

“Iya.. Kamu pulang malem terus sih, jadi jarang cerita lagi sama mama..”

Aku mengangguk, dan sepanjang malam itu aku habiskan dengan mengobrol dengan mama, yang ternyata membuat keadaanku lebih baik.

-xoxoxox-


Sebenarnya hari ini aku malas kuliah, tetapi karena adanya sms dari teman-temanku, yang tentunya menanyakan kabarku, yang datang bertubi-tubi selama dua hari ini, mau tidak mau aku harus datang ke kampus hari ini demi memperlihatkan kepada mereka bahwa aku baik-baik aja (Truthfully, it’s a lie! Mana mungkin ada orang yang ditinggal pergi oleh orang yang dia sayangi, dalam jangka waktu dua hari dia udah baik-baik aja? Hmph, kalaupun ada, it is sure not me..).

Aku baru saja selesai berpakaian dan kemudian menuruni tangga ketika kulihat Al sedang duduk di sofa ruang tengah. Dengan kemeja hitam dan jeans-nya, Al tampak rapi, tetapi tentu itu bukan pakaian kerja. Humph, tumben! Ngapain Al ke sini pagi-pagi, bukannya ke kantor?

“Ga kerja Al? Ngapain kesini pagi-pagi?” tanyaku sambil mengambil sepotong roti, menawarkannya kepada dia, “Udah sarapan?”

Al mengangguk pelan. “Udah tadi. Lo makan aja.”

Aku hanya mengangkat bahu. “Eh, tadi pertanyaan gwe belom dijawab! Kok lo ga kerja? Dan ngapain juga lo kesini pagi-pagi?” Tiba-tiba mamaku muncul dari dapur dengan membawa sepiring nasi goreng dan berkata, “Mama yang nyuruh Al datang kesini. Mama minta tolong dia untuk ngantar kamu ke kampus pagi ini. Habis, mama khawatir ngebiarin kamu pergi sendirian ke kampus..”

Aku mengernyit, kemudian kulirik Al, dia hanya mengangkat bahu sambil tersenyum pasrah. “Aku kan bisa sendiri ma, masa mama nggak yakin sama aku? Selama ini juga aku kemana-mana sendiri.. Lagipula kan kasihan Al, emangnya dia nggak ke kantor? Jarak Depok - Bintaro kan nggak cuma tiga kali nafas nyampe..”

“Al hari ini ga kerja kok Sha. Katanya dia dapat hadiah day-off dari bosnya karena kemaren abis ngebantu bos-nya” sela mama dengan cepat, lalu menoleh ke arah Al, “Iya kan, Al?” tanya mama meminta persetujuan.

Sekali lagi kulirik Al, dan dia lagi-lagi hanya tersenyum pasrah.

“Ya udah, aku ada kuliah jam sebelas, aku berangkat sekarang aja deh ma..” pamitku setelah berusaha menjejalkan sepotong besar roti ke dalam mulutku. Bisa gawat kalau mama melihat aku tidak sarapan sama sekali sebelum berangkat kuliah. Jadi, walaupun aku benar-benar nggak nafsu untuk makan, kupaksa juga menelan roti itu. Biar sisanya Al yang makan di tengah jalan nanti, pikirku.

Setelah pamit kepada mama, beberapa saat kemudian aku dan Al sudah berada di tengah-tengah ramainya lalu lintas Jakarta, tentunya di dalam sedan mungilnya si Al.

“Emang lo beneran dapet day-off?” tanyaku sambil berusaha mencari-cari gelombang radio yang pas dan enak untuk didengar. “Apa jangan-jangan cuma gara-gara nggak enak aja sama nyokap gwe?”

Al nyengir. “Hehe, ya boong lah! Mana mungkin bos gwe ngasih day-off! Ga-pa-pa, buat lo, apa sih yang ngga? Hehe..”

“Yakin lo?” aku bertanya dengan curiga. “Gini aja deh, lo turunin gwe di perempatan depan, temenin gwe nungguin bis, terus lo ke kantor deh. Gwe janji nggak akan bilang sama nyokap kalau lo nggak nganterin gwe sampe kampus.”

Al memutar setir ke kiri, setelah jalanan agak sepi, baru dia berkomentar. “Trus, ngebiarin lo pergi sendiri gitu? Dalam keadaan kaya gini? Hoho, nggak akan. Gini-gini gwe adalah salah satu contoh pria yang bertanggung jawab, non! Lagipula, lo ga ngeliat dandanan gwe? Dan jam berapa sekarang? Gwe harusnya masuk jam 9 tau!”

Mau nggak mau aku nyengir. “Yaaa, tapi gwe kan nggak enak sama lo, Al. Masa gara-gara gwe, lo sampai ngorbanin gaji lo dipotong. Berapa sih? 75 ribu ya? Gini-gini gwe juga termasuk cewek yang bertanggung jawab, nggak mau ada orang lain rugi hanya gara-gara gwe..”

“Yakin lo?” tanyanya dengan ekspresi ga-mungkin-lo-kya-gitu. “Ntar kalo gwe biarin naik bis sendiri, trus lo tiba-tiba kepikiran buat bunuh diri gimana?” lanjutnya dengan wajah yang ngeselin banget.

Aku langsung mencibir. “Enak aja!!” semprotku. “Gwe nggak sebegitunya kali..”

Lagi-lagi Al hanya nyengir. “Sorry non, gwe juga nggak pernah berpikir seburuk itu kok. I just worry about you.. Lagipula emangnya keperluan gwe cuma nganterin lo doang?”

Aku menoleh, “Emangnya ada keperluan apa lagi?” tanyaku penasaran.

Wajah Al tiba-tiba menjadi sangat serius. Tatapannya lurus ke arah jalan. Seketika aku menjadi khawatir menunggu jawabannya. Dan setelah diam sejenak, “Ya mau ngegebet cewek-cewek laaahhh.. Emangnya mau apalagi lo kira?”

Mendengar jawabannya, aku langsung tertawa. Lepas.

Tawa pertama dalam tiga hari.

-xoxoxox-


Aku menatap wajah-wajah teman-temanku. Tatapan mereka sama semua, kasihan. Satu-dua ada yang berusaha menyapa. Say sorry to hear that. Ada juga yang memelukku. Aku hanya mencoba tersenyum. Dan ketika kulihat sosok Maia dan Najma –dua sahabatku- di depan ruang kuliahku, aku lekas mempercepat ayunan langkahku.

Belum sempat aku menyapa, lengking teriakan Maia sudah terdengar. “Trishaaa!! Ya ampuuun, lo masuk hari ini?”

Sekejap saja langkahku terhenti. Malu juga dilihat oleh orang-orang lain yang langsung menyadari kehadiranku akibat teriakan Maia. Sementara kulihat Najma langsung membalikkan badan, pura-pura nggak kenal.

Kebiasaan.

Tapi Maia nggak peduli, dia langsung berlari menghampiri dan memelukku. “Hai, gwe pikir lo baru masuk minggu depan. Padahal ntar siang gwe sama Najma mau ke rumah lo lho.. Najma malahan udah bikin makanan buat lo. Nah, berhubung lo ternyata masuk hari ini, ya.. jalan satu-satunya makanan itu buat gwe. Hwehehe..”

Aku hanya bengong menatap sahabatku itu.

Dan tampaknya Maia menyadari sesuatu, “Aduuhh, maaf ya Sha.. Kayanya gwe nggak berempati banget ya sama lo.. Beneran maksud gwe nggak begitu kok.. Gwe ngerti kalo lo masih sedih, aduh, maafin gwe ya..”

Aku tersenyum. “Santai aja Non, nggak apa-apa kok” kataku menenangkan dia. Maia menatapku dengan pandangan menyelidik, “Yakin lo nggak apa-apa?”

Aku mengangguk yakin.

“Udah nggak sedih?” tanyanya polos.

Dan datanglah Najma menjitak kepala Maia dengan sadis. “Bukan itu maksudnya, bodoh!” lalu dia berpaling ke arahku, “How’s life Sha?” tanyanya lembut.

Karena nggak tahu harus bilang apa, aku hanya tersenyum dan mengangkat bahuku. “You see.. Life must still go on, and here I am..

Najma membawaku ke salah satu bangku yang kosong. Setelah beberapa saat dalam diam, kemudian dia memecahkan suasana. “Are you sure you’re okay?”

Aku diam saja. Nggak tahu harus berkata apa. Ingin bilang bahwa aku baik-baik saja, itu nggak mungkin, karena pada kenyataannya hatiku memang hancur, sehancur-hancurnya. Rasanya nggak pernah bisa dijelaskan dengan kata-kata. Kalaupun aku bisa menjelaskannya, aku nggak yakin Najma atau Maia atau siapapun akan bisa mengerti perasaanku ini. Mereka nggak akan pernah mengerti sampai mereka mengalaminya sendiri. Dan aku juga nggak terlalu berharap bahwa mereka bisa mengerti perasaanku ini.

Seakan bisa membaca pikiranku, Najma berkata pelan, “Sha, gwe tau, gwe nggak bisa bilang bahwa gwe mengerti bagaimana perasaan lo karena sesungguhnya gwe nggak akan pernah mengerti sampai gwe mengalaminya sendiri.. Tapi lo nggak bisa bersedih terus kaya gini, sementara lo punya kehidupan sendiri yang harus lo jalanin..”

Aku terdiam. Kemudian terisak pelan.

Najma membelai lembut kepalaku. “Sha, nangis aja. Nggak ada yang ngelarang lo untuk nangis. Tapi jangan sampai lo tenggelam dalam kesedihan lo sendiri sampai lo ngebuat orang-orang lain yang peduli dan sayang sama lo jadi sedih.. Nyokap lo semalem nelepon gwe, katanya lo udah dua hari ini nggak mau makan nasi ya? Jangan gitu Sha, Reo juga nggak mau ngeliat lo kaya gini. Kalau kaya gini, lo cuma nyakitin diri lo sendiri aja..”

“Al juga nelpon gwe, dia khawatir banget sama lo. Dia nitip ke gwe supaya ngejagain lo selama di kampus. Bayangin Sha, semua orang care sama lo, tapi kenapa lo nggak care sama diri lo sendiri?”

Aku makin terisak, “Kalau semua orang care, kenapa Reo ninggalin gwe Ma? Kenapa dia pergi padahal dia janji mau selalu nemenin gwe? Selalu ngejagain gwe? Kenapa sekarang dia pergi? Kenapa harus dia Ma?” aku hampir histeris.

Langsung saja Maia dan Najma mendekap aku erat-erat. “Ssshh… Lo nggak boleh ngomong gitu Sha.. Lo nggak boleh, kita nggak boleh ngelawan kehendak Tuhan. Reo pergi, karena itu memang saatnya untuk pergi.. God must have a best plan for him..

“Tapi dia ninggalin gwe Ma..”

“Bukan cuma lo, Sha, yang ditinggalin. Gwe, Maia, keluarganya, temen-temennya, semuanya juga ditinggalin.. Tapi mereka bisa menerima, Sha, karena memang udah jalannya. Kalau mereka, keluarganya, nyokapnya aja bisa nerima, kenapa lo nggak bisa?”

“Gwe nggak siap..”

“Lo harus siap. Itu udah terjadi.”

Isakanku makin keras. Tapi Najma dan Maia nggak melakukan apa-apa. Mereka hanya memelukku dengan penuh perasaan sayang.

Let him go, Sha.. let him go..” bisik Najma.

Aku memejamkan mata dan menangis.

-xoxoxox-


Ini malam ketujuh tanpa Reo.

Aku sudah tidak menangis lagi. Benar kata Najma, aku harus rela melepas Reo pergi. Walaupun berat, aku tahu bahwa aku harus berusaha. Mataku masih sembab akibat menangis berhari-hari. Tapi aku janji pada diriku sendiri kalau aku tidak akan menangis lagi. Pasti Reo sedih kalau melihat aku terus-terusan kaya gini.

Jadi hari ini aku memasukkan semua barang-barang yang mengingatkan akan Reo ke dalam kardus. Bukan,bukan untuk dibuang, hanya disimpan agar membantuku lebih cepat untuk melupakan Reo, membantuku agar lebih mudah melalui ini semua. Mungkin suatu saat nanti, saat aku sudah siap, aku bisa membuka kardus ini lagi tanpa perasaan kehilangan yang menyakitkan seperti pada hari ini.

Kupandangi foto yang terdapat wajah Reo yang tersenyum bahagia. It seems a long-long time ago. Aku bersyukur pernah mengenalnya. Dia begitu berarti karena selalu mewarnai hari-hariku sehingga menjadi begitu penuh kejutan. Semua perasaan ada disana. Dari sedih, bahagia, sebel, kesel, marah, sampai terharu, semuanya pernah aku alami bersama Reo.

And once I ever thought that he was my sunshine.

But I was wrong.

Now I know, he was just my rainbow.

And my sunshine is waiting for me out there.



BAB II


BAB II
Life Still (and Must) Goes On



“Ssstt.. Sha.. Trisha..”

Seseorang mendesiskan namaku dengan agak berlebihan. Tanpa menoleh pun aku tahu siapa orangnya. Itu pasti Maia. Tapi berhubung sekarang lagi kuliah Ekonomi Moneter 2 yang diajar Pak Anwar, salah satu dosen pembunuh (atau killer dalam bahasa inggris), maka aku memutuskan untuk nggak menoleh. Terakhir kali aku menoleh ketika dipanggil dengan desisan seperti itu, aku kena lempar spidol. Sakit sih nggak seberapa, tapi malunya itu lho.. Lagipula image kan bisa buruk kalau hal kaya gitu diulangin lagi, hehe..

Tetapi kayanya desisan Maia makin lama makin keras deh, heran Pak Anwar nggak dengar, padahal setengah kelas udah denger dan menunjukkan tanda-tanda tertarik pada kejadian ini karena, sumpah, kuliahnya membosankan banget! Jadi mereka menunggu sesuatu yang bisa menjadi kejutan di tengah-tengah kuliah yang kira-kira selesai satu jam lagi. Ibaratnya, mereka berharap menemukan oase di tengah gurun pasir yang luas. Dan aku untuk menjadi oasenya? Huh, no way, jose!!

Dan karena Miko yang duduk paling depan pun sampai melihat ke arahku, akhirnya aku menoleh juga ke arah Maia. “Apa?” bisikku sepelan mungkin agar nggak terdengar oleh Pak Anwar –dan tentunya anak-anak–

Lalu apa yang dilakukan Maia? Dia hanya memberikan isyarat dengan matanya agar aku menoleh ke arah pintu. Dan ketika aku mengikuti arah pandangannya, reflek aku langsung mengerang sebal.

Disana ada Andry. Dia langsung tersenyum ke arahku begitu tahu bahwa aku sudah menyadari bahwa ada dia disitu. Mau nggak mau aku hanya nyengir kaku.

Sial, dia adalah orang yang paling malas aku temui untuk saat ini, selain Pak Anwar tentunya. Dari kemarin-kemarin aku berusaha banget menghindari dia. Kata Maia dan Najma sih dia lagi PDKT ke aku. But who cares? Itu masalah dia kalau mau PDKT.

Tapi ternyata itu juga masalahku. Karena apa? Karena makhluk yang bernama Andry itu PDKT-nya gencar banget. Aku sampai kewalahan dibuatnya. Sms setiap kira-kira tiga jam. Nelpon hampir setiap malam. Bahkan dia hampir selalu nongkrong di depan kelasku setiap aku kuliah. Nggak tau dapet dari mana jadwalnya. Aku jadi berpikir, apa dia ga pernah kuliah ya? Kok bisa-bisanya sering banget ada didepan kelasku? Belum lagi kedatangannya di rumah. Waduh, males banget deh! Malah pernah waktu itu dia tiba-tiba muncul di salon ketika aku, Maia, dan Najma lagi creambath. Bilangnya sih nggak sengaja ketemu, tapi aku seratus persen nggak percaya. Pokoknya orang ini mengganggu banget deh.

Sebenernya Andry nggak jelek kok. Bisa dibilang ganteng malah. Maia dan Najma mengakuinya. But because I’m not in the mood for relationship for now, ditambah lagi dengan cara PDKT-nya yang bikin ilfil itu, aku rela dan ikhlas banget mendepak dia dari kehidupanku untuk sementara ini..

Jahat sih kedengarannya, tapi mau gimana lagi? Padahal aku merasa sudah cukup menunjukkan sinyal-sinyal penolakan deh. Setiap dia mengajak jalan atau menawarkan diri nganterin pulang, aku sudah mengeluarkan segala alasan yang masuk akal seperti, “Wah, nggak bisa tuh, hari ini gwe ada rapat bareng panitia bazar murah,” sampai nggak masuk akal kaya, “Yah, Ndry, hari ini gwe ada janji sama salon hewan soalnya kucing gwe mau creambath dan luluran,” semuanya nggak ada yang dia sadari (atau pura-pura nggak sadar? Well, who knows..). Malahan, pernah sewaktu dia datang ke rumah, dia ditantangin Al main catur sampai jam sebelas, padahal aku sudah pergi tidur dari jam sembilan. Al emang geblek, but thanks to him..

“Trisha Kirana..” tiba-tiba terdengar suara Pak Anwar memanggil namaku. Aku langsung pucat, karena aku dari tadi tidak mendengarkan kuliahnya, dan klo dia nanya sesuatu, its sure not good!

“Iya Pak?” aku menjawab dengan takut-takut. Pak Anwar melihat sekilas ke arahku, lalu melihat ke arah mejanya, dan berkata, “Tristi Indira..” Aku melihat Tristy mengangkat tangan dan mengatakan ‘Hadir pak..’ dan aku baru sadar ternyata Pak Anwar sedang mengabsen. Sial! Bikin aku takut aja, kirain mau nanya.. But, hei.. Wait a sec! Kenapa Pak Anwar ngabsen sekarang? Bukannya biasanya dia ngabsen klo udah mau selesai? Argh, itu artinya sebentar lagi aku harus berhadapan dengan Andry! Aduh,gawat! Belom juga mikir alasan apa buat menghindari dia kali ini.

“Ya, saya rasa hari ini cukup sekian, jangan lupa buat summary Chapter 7 ya buat minggu depan. Baik, selamat siang!” kata Pak Anwar sebelum akhirnya berjalan keluar kelas. Belum selesai aku membereskan barang-barangku, tiba-tiba Andry muncul di depanku.

“Hai Sha.. Abis ini udah ga ada kuliah lagi kan? Gimana klo kita nonton?” kata Andry dengan cueknya.

“Mmph, gimana ya ndry ya?Ngg, gwe ga bisa.. Mau ngerjain tugas kelompok sama Maia..” jawabku dengan gugup.

“Yaah, tadi si Maia kok tadi bilang mau waktu gwe ajak?” kata Andry lagi. Aku membalik badan dan menatap tajam ke arah Maia, Maia hanya nyengir dengan muka tak bersalah.

“Engg, gimana ya Ndry? Ya boleh deh.. Mau nonton apa, dimana?” kataku dengan sangat berat hati. Yaah, tak apa lah, sekali-kali jalan dengan Andry, kasian juga dia selalu ku tolak, pikirku. Tiba-tiba ponselku berdering. Ku lihat nama Najma di layar, “Halo.. Kenapa Ma?” tanyaku heran, tak biasanya dia menelponku dikampus.

“Hei, gwe tau si Andry lagi ngajak lo jalan kan, tapi lo ga mau..”

“Lho, kok..” aku hendak bertanya tetapi langsung dipotong oleh Najma, “Stt.. Udah diem aja! Anggap aja gwe nyokap lo!”

Aku langsung mengerti, dan sambil menepuk jidat aku berkata, “Oh iya mah, Trisha lupa! Trisha udah ga ada kuliah lagi kok! Bisa kok mah, ya udah.. Daagh Mama..”

“Siapa Sha?” tanya Andry setelah aku menutup telpon.

“Nyokap! Aduh Ndry, maaf ya.. Nyokap gwe minta ditemenin ke rumah tante gwe, ada arisan.. Jadi gwe ga bisa nonton deh.. Lo sama Maia aja yah?” kataku pura-pura menyesal.

“Iya Ndry, kita nonton berdua aja. Mau kan?” celetuk Maia tiba-tiba.

“Engg, gimana ya? Gwe juga baru inget klo hari ini gwe harus ke bengkel, mau ganti oli..” kata Andry buru-buru. “Ya udah deh, sampe nanti ya. Daagh Trisha..” katanya sambil keluar dari kelasku. Beberapa detik berikutnya Najma muncul ke kelasku. Aku nyengir, dan Najma dan Maia tertawa. “Haha, makasih ya Ma.. Lo emang selalu ngertiin gwe.. Thanx banget ya..” kataku sambil tertawa.

“Ga-pa-pa.. Its OK kok! Lagian gwe juga sebel ma dia, ga empati banget sama lo.. Huh! Ga tau apa lo masih dalam masa berkabung!” kata Najma.

“Yaah, sayang tapinya.. Padahal kan dia mau bayarin gwe tadi katanya..” celetuk Maia. Tiba-tiba aku menyadari sesuatu.

“Ooh, jadi elo ya yang selama ini ngasih jadwal gwe ke dia?” tanyaku curiga.

“Hehe.. He-eh!” jawab Maia sambil mengangguk tanpa rasa bersalah sedikit pun.

“Ya ampuun!! Wa-parah-lo Mai..” kataku speechless.

“Yaaa Trisha.. Gwe kan cuma pengen lo seneng, pengen lo kembali ceria kya dulu.. Pengen lo punya cowo lagi biar bisa membantu lo ngelupain Reo..” kata Maia lagi. Najma menjitak kepala Maia, dan berkata, “Wah.. Emang lo geblek dari sananya ya! Udah ga bisa di apa-apain lagi! Mikir dikit napa perasaan Trisha.. Coba dong lo bayangin, lo ditinggal sama cowo lo! Lo waktu putus sama Dafy aja ga bisa ngelupainnya sampe berapa lama? Hah?” kata Najma agak emosi. Maia terdiam beberapa saat.

“Iya siyy.. Sampe sekarang gwe juga belom bisa ngelupain Dafy sebetulnya..” katanya sambil menunduk. Najma terlihat merasa bersalah, ia hendak mengatakan sesuatu tetapi suara Maia terdengar terlebih dahulu, “Tapi klo Andry PDKT ma gwe, gwe mah mau aja.. Mau banget malah, hehe..” kata Maia nyengir. Najma menjitak kepala Maia lagi.

“Ya udah lah Ma.. Maksud Maia baik kok.. Tapi Mai, gwe ga-pa-pa kok! I’ll get over Reo. Gwe ga butuh Andry untuk ngelupain Reo, jadi ga usah ngejodoh-jodohin gwe lagi, OK?” kataku sambil mengedipkan satu mata. Maia mengangguk.

“OK ma`am.. Klo gitu boleh dong Andry buat gwe? Hehe..”

“Ambil sana, gwe kasih dengan senang hati.” jawabku sambil nyengir.

“Eh,eh.. Kita jalan-jalan yuk! Gimana klo ke Bogor? Kata Najma tiba-tiba.

“Hah, ke Bogor? Ngapain? Emang ada apa disana?” kataku, yang belum pernah ke Bogor.

“Hmph, ga tau juga sih.. Yang gwe tau sih ada mal baru, ada bioskop murah, ada Factory Outlet, ada makaroni panggang, emm.. apalagi ya?” jawab Najma.

“Gila lo Ma.. Banyak juga tempat di Bogor yang lo tau.” kata Maia takjub.

Najma hanya nyengir dengan ekspresi muka mencurigakan.

“Iya bener Ma! Itu mah bukannya ‘Hmm, ga tau juga sih..’ Lo tau darimana coba? Emang kapan lo ke Bogor?” tanyaku curiga. Najma nyengir lagi. “Hmph, gimana ya? Kasih tau ga ya? Hehe..” goda Najma dengan muka menyebalkan. Aku dan Maia langsung menjitak Najma. “Hehe.. Ampun, ampun! Iya deh, gwe nyerah.. Gwe kasih tau! Gwe kan lagi deket ma anak IPB, namanya Andi. Dia itu temennya temen gwe.” aku Najma malu-malu.

“Waah.. Ga setia kawan nih! Kok ga ngasih tau dari dulu?” kataku sok marah.

“Hehe.. Sebenernya sih mau ngasih kejutan, ntar ngasih taunya pas udah jadian.. Hehe..”

“Huu.. Payah nih Najma!” kata Maia ikut-ikutan.

“Ya udah, boleh deh.. Gwe belom pernah ke Bogor nih! Naik apa?”

“Naik kereta aja..ntar minta jemput Marsh di sana, OK?”

“SIP deh..” kataku.

Maia diam saja. “Kenapa lo Mai?” tanya Najma setelah menyadarinya.

“Naik mobil gwe aja ya..” katanya.

“Aah, males ah! Jauh tau ke Bogor naik mobil! Mending naik kereta aja. Gampang!”

“Gwe kan ga pernah naik kereta..”

“Yee.. Emangnya kenapa terus? Ya bagus lah, lo cobain tuh sekali-kali naik kendaraan rakyat!” kata Najma.

Maia memang merupakan anak tunggal dari keluarga yang berada, yang sangat disayang. Sampai umur 20 tahun ini dia belum pernah sekali pun naik angkutan umum, apalagi kereta!

“Hmm, gimana ya? Ntar klo nyokap gwe tau gimana?”

“Ya ampun! Sapa juga sih yang mau ngasih tau nyokap lo? Kecuali nyokap lo nyewa P.I. untuk ngikutin lo, baru deh..”

“Hmm, iya deh.. Gwe juga pengen nyoba sekali-kali naik kereta!” kata Maia akhirnya setelah berpikir.

-xoxoxox-


Puffhh, akhirnya aku duduk juga. Aku bernafas lega, sambil duduk di angkot menuju rumahku. Setelah tadi di kereta berdiri selama 5 stasiun ditambah di Deborah tadi, kakiku rasanya mau copot. Perjalanan ke Bogor tadi menyenangkan juga. Kecuali bagian Maia yang selalu mengeluh sepanjang jalan di kereta. Selebihnya OK! Ternyata Bogor asyik juga buat tempat jalan-jalan.

Aku menikmati sisa perjalanan menuju rumahku sampai ada seorang pria yang masuk, duduk didepanku dan merokok. Ugh, aku sebal! Asap rokoknya mengarah ke muka dan tubuhku. Walau pun aku sudah batuk-batuk, mengibas-ngibaskan tanganku, tapi pria itu tetap melanjutkan menikmati rokoknya. Rasanya aku ingin meninju mukanya.

“Mas, matiin dong rokoknya.. Kasian tuh mbak itu, ga tahan sama asap rokok!” tiba-tiba pria disebelahnya menegur pria yang merokok itu.

“Lho, ini kan angkutan umum. Ga ada larangan orang ngerokok!” sahut pria itu sewot.

“Iya emang.. Tapi coba aja tanya orang-orang disini, sapa yang ga setuju mas ngerokok disini, gimana?”

Pria yang merokok itu terdiam ketika melihat 3 orang ibu-ibu, aku dan pria disebelahnya mengangkat tangan. Akhirnya ia pun menyerah dan mematikan rokoknya.

Huh, akhirnya. Wah, cowo itu OK juga.. Berani banget nyuruh orang matiin rokoknya. Hebat! Aku melihat ke arah cowo itu, dan ia tersenyum kepadaku. Aku hanya bisa membalas senyumannya. Aku kembali menikmati perjalan dengan tenang sampai depan jalan rumahku.

“Kiri bang..” kataku berbarengan dengan cowo ‘OK’ tadi. Aku turun, dan diikuti oleh cowo itu. Setelah aku membayar angkot, dari belakangku cowo itu berkata, “Waah, ternyata tempat turun kita sama ya?” Aku membalikkan badanku, dan mengucapkan, “Iya.. Btw, thanx ya tadi diangkot..” kataku sambil memaksakan senyum. Sebenarnya aku sebal dengan cowo-cowo yang suka sok akrab, tapi karena tadi dia ‘menolongku’, maka aku mau tidak mau harus setidaknya bersikap ramah kepadanya.

“Ooh, its OK! Gwe juga sebel kok sama orang yang ngerokok di angkot!” jawabnya. Setelah itu dia diam saja, tapi dia berjalan disebelahku. Iih, nih cowo ternyata reseh juga! Ngapain dia jalan disebelah gwe coba? Kayak kenal aja.., pikirku dalam hati. Tapi karena ia tidak melakukan apa-apa, aku pun hanya diam saja berjalan sampai rumahku.

“Waah, ternyata tetangganya Al ya?” kudengar suara cowo itu lagi ketika aku sedang berusaha membuka pagar rumahku. Aku menoleh kearahnya, mengangguk dan langsung masuk ke dalam rumah. Huh, ternyata dia temannya Al!, pikirku. Aku berjalan kekamarku dan begitu masuk kamar, aku langsung membuang badanku ke kasur. Wuaah, rasanya nyaman sekali. Seluruh badanku yang pegal akhirnya bisa istirahat dengan tenang. Ternyata belum 15 menit aku berbaring, mama memanggilku dari bawah.

“Trishaa.. Ada Al nih!” teriak mamaku dari bawah.

Uugh, kenapa semua orang jadi rese sih? Mau apa lagi si Al dateng sekarang? Ga tau apa orang lagi asyik istirahat. Liat aja, klo ntar dia muncul untuk suatu hal yang ga penting, aku akan mengusirnya pulang. Huh!, gerutuku dalam hati. Tapi aku akhirnya bangkit dan turun kebawah, ku lihat Al duduk diruang tamu bersama cowo yang tadi. Aduh, ga bisa marah-marah deh! Aku segera berusaha meredam emosiku.

“Hei Al, da apaan ke sini?” tanyaku galak, sambil duduk didepannya.

Yang digalaki hanya senyum-senyum ga jelas, lalu berkata, “Ngga ada apa-apa..” –kata-kata yang membuat emosiku kembali- “Ini nih, temen gwe, si Keiza, maksa-maksa nyuruh gwe nganterin dia kesini.. Katanya mau kenalan ma lo..”

Oh no, dia lagi! Aku tak tahu harus berbuat apa, kemudian cowo itu -Keiza- berdiri dan mengulurkan tangannya sambil tersenyum dan berkata, “ Keiza Galaxy Putra..” Iih, bikin ilfil! Ngapain juga orang kenalan nyebut nama lengkap, dasar kampung!, kataku dalam hati. Tapi toh aku tetap menyambut tangannya dan berkata, “Trisha..” Kemudian aku kembali duduk. Sesaat kemudian terjadi keheningan, sampai Keiza bertanya, “Trisha masih kuliah ya? Dimana dan semester berapa?”

“Iya.. Gwe kuliah di FEUI, sekarang semester 6! Lo sendiri? Temen kerjanya Al?”

“Ooh, bukan.. Gwe temen SMA Al, tapi sekarang baru ketemu lagi coz gwe baru pulang.”

“Hmm, pulang darimana?”

“Gwe abis nyelesain kuliah S2 gwe di Princeton University.”

“Ooh..” kataku.

“Ehm, gwe ga diajak ngomong nih.” kata Al tiba-tiba sambil nyengir.

“Apaan sih lo Al.. Ya ngomong aja klo mau.” kata Keiza.

Sebelum Al berbicara sesuatu, terdengar dering ponsel, yang ternyata ponsel Keiza, kemudian Keiza berjalan ke arah luar setelah melihat layar ponselnya. Beberapa saat kemudian ia kembali, dan berkata, “Aduuh, maaf ya.. Gwe harus balik nih! Ada urusan penting.”

“Apaan sih Key? Belom juga ada setengah jam kita ketemu, kok lo udah mau pergi lagi? Siapa sih emang yang nelpon?” tanya Al.

“Engg.. Rumah sakit!” jawab Keiza.

“Hah, emang lo sakit apaan?” celetukku.

“Ngga, gwe cuma dipanggil bokap. Bokap gwe kerja di rumah sakit.”

“Ooh..”

“Ya udah deh, gwe cabut dulu ya.. Hmm, kapan2 kita ngobrol2 lagi ya Sha..”

“Heh, lo bukannya pengen ngobrol2 ma gwe?” kata Al.

“Oya, nyokap lo mana Sha? Gwe mo pamit nih.” lanjut Keiza tanpa memperdulikan omongan Al. Aku bangkit, memanggil mama dikamarnya, dan kemudian kembali ke ruang tamu. Keiza pamit ke mama, kemudian aku dan Al mengantarnya sampai ke depan pagar.

“Lho Al, ga pulang sekalian?” tanyaku kasar, setelah Keiza tidak kelihatan lagi.

“Ngga ah, bosen dirumah.” Al berjalan ke arah pintu rumahku.

“Duuh Al, gwe pengen istirahat nih! Pulang sana..” usirku, sambil berjalan ke arah pintu juga.

“Ooh, lo mau istirahat ya? Waah, maaf ya, gwe ga tau klo lo lagi cape. Ya udah deh, ayo masuk ke rumah.” kata Al sambil nyengir. Ia mendorong-dorongku masuk kerumah dan kemudian ia kembali duduk di ruang tamu.

“Ni anak kurang ajar banget! Udah gwe usir baik-baik juga..” kataku sebal.

“Ya ampun Sha, lo kan bisa istirahat disini. Emangnya lo ga bisa istirahat sambil duduk? Apa lo mau kita nonton dvd aja biar lo bisa tiduran di depan tv?” tanyanya.

“Heh, emang ini rumah sapa? Dasar gila lo Al!”

Al cuma nyengir seperti biasa.

“OK, gwe nyerah deh! Ya udah, ayo nonton aja.” kataku lagi, pusing menghadapi Al yang ngeyel abis.

“Sip..” kata Al, kemudian ia langsung berdiri dan berjalan ke arah ruang TV mendahuluiku.

“Mau nonton apa mbak?” tanyanya sesaat setelah aku sampai di ruang TV. Ia terlihat sedang sibuk memilih2 DVD di kotak CD-ku. Aku melotot, kemudian berkata, “Wah, tuan rumah yang baik sekali.. Sekalian aja sediain cemilan buat nonton!” sindirku. Al hanya nyengir, karena aku gemas dan tak tahu harus berkata apa, aku melempar bantal yang ada didekatku kearahnya. Ia malah ketawa-tawa.

“Haha, lo lucu deh klo lagi kya gini..” kata Al sambil tertawa.

“Kaya gini gimana?” tanyaku.

“Iya, klo lagi ga tau harus ngomong apalagi.”

“Huuh.. Nonton apa jadinya?” kataku, melihat Al memasukkan dvd ke playernya.

“Friends season 5, cd 1!” jawabnya.

“Aah Al!Gwe udah nontoonn.. Cari yang lain dong!”

“Yee, nenek2! Ya ini kan DVD lo, ya pasti udah lo tonton semua lah, gimana sih?”

“Iya ya?Hmm, tapi gwe lagi males nonton itu..”

Akhirnya setelah melalui perdebatan yang panjang (hiperbola!), aku dan Al setuju untuk menonton `City of Angels`, salah satu film favoritku. Walau pun tidak jadi tidur seperti niatku semula, pegal tubuhku lenyap menguap entah kemana setelah film itu selesai.

“Whuaa.. Filmnya keren ya.. Hiks, hiks.. Keren abis!” kataku dengan perasaan terharu, sedih, senang, dan puas.

“Ya ampun Sha, lo kan udah berapa kali nonton film ini? Masa iya masih tetep nangis aja?”

“Abisan keren banget.. Gwe suka banget ma film ini.”

“Yeah, whatever you say lah. Btw, gimana pendapat lo tentang Keiza? Kayanya dia tertarik ma lo tuh.” Al tersenyum menatapku.

“Hah? Keiza? Gwe ga terlalu merhatiin tadi, orang lagi sebel! Gwe kan mau istirahat, malah digangguin..” kataku sambil merengut. “Tapi, klo disuruh kasih komentar sih, yaa.. Dia itu agak-agak kampungan coz nyebut nama lengkap pas kenalan, terus dia juga rese karena tadi dia dengan sok akrabnya jalan sebelah gwe abis turun dari angkot sampe depan rumah.” lanjutku.

“Whuahua.. Kasian banget dia! Lo ngasih komentarnya jelek-jelek gitu.. Untung orangnya udah pulang, hihi.. Emang sih dia kampung, dan pede banget! Ga tau malu tepatnya!”

Aku bengong. Si Al kok tega banget ya sama temennya sendiri? Temennya aku jelek-jelekin, dia malah ketawa, udah gitu malah nambah-nambahin daftar kejelekannya lagi. Dasar Cowo!

“Tapi ga segitunya juga sih Al.. Tadi dia di angkot dengan gentle-nya nyuruh orang sebelahnya matiin rokok buat gwe! Berarti dia baik!” aku membela Keiza, yang setelah kupikir-pikir lagi, kenapa aku harus membelanya ya?

“Ooh.. Itu mah karena dia juga ga suka sama orang yang ngerokok deket dia, jadi bukan karena lo! GR banget lo!”

“Yee, tapi tadi dia bilangnya gini, `matiin dong mas rokoknya, kasian tuh cewe itu ga tahan sama asap rokok!` Gitu! Berarti kan demi gwe!” kataku lagi, dengan senyum kemenangan.

“Ah, lo mah GR aja.. Itu kan berarti lo dijadiin alesan buat kepentingan dia!” kata Al ga kalah keukeuh menjelekkan Keiza.

“Terserah lo deh Al.. Lo mah emang niat ngejelekin dia!” kataku menyerah.

“Eh, tapi emang mungkin juga sih karena lo.. Kan dia tertarik ma lo..” bales Al.

“Ni anak gimana sih! Ga konsisten banget! Tadi keukeuh banget ngejelekin dia, sekrang tiba-tiba berubah pikiran setelah gwe nyerah! Payah lo jadi cowo, ga punya pendirian!” kataku sambil membentuk `muka jelek` dan memamerkannya ke Al. Al malah tertawa-tawa.

-xoxoxox-

Sore ini aku nggak ngapa-ngapain. Setelah kuliah jam delapan tadi, aku nggak ngapa-ngapain! Jam dua tadi nggak ada kuliah karena dosennya lagi ke luar negeri. Sebenarnya, seharusnya aku merasa rugi, karena sudah bayar mahal-mahal, datang jauh-jauh dari rumah, nggak dapat ilmu! Tapi nyatanya aku malah senang banget.. Yah, tipikal mahasiswa zaman sekarang. Susah emang, hehe.. Nah, karena nggak ada apa-apa, Najma meminta aku menemaninya ke Pusgiwa. Aku pikir mau ngapain, ternyata dia mau panjat dinding! Aku tahu kalau dia itu tomboy banget, tapi aku nggak pernah tahu kalau dia ternyata suka panjat dinding. Dan hari ini dia bilang mau unjuk kebolehan ke aku dan Maia. Tapi berhubung Maia ada kuliah, jadinya yang tersisa hanya aku saja.

Jadi sekarang aku duduk disini memperhatikan Najma yang sibuk menahan beban badannya agar bisa tetap menempel di dinding buatan itu. Hebat juga cewek satu itu. Aku tidak pernah tahu kalau dia punya keahlian kaya gini. Kalau aku sih nggak akan mau mencoba hal-hal kaya gini. Malas aja. Lagipula aku takut ketinggian. Nanti kalau misalnya jatuh terus kebentur dinding itu gimana? Wah, kan bisa panjang urusannya. Tapi kalau Najma sih aku yakin-yakin aja. Dia kan modalnya nekat. Dan aku nggak senekat itu.

Sedang asyik-asyiknya memperhatikan Najma, tiba-tiba ada cowok duduk di sebelahku. Aku melirik sedikit dan kuputuskan untuk tidak melakukan tindakan apa-apa. Tapi setelah aku lirik sekali lagi, ternyata cowok itu lumayan keren lho.. hehe.. Tapi sekali lagi, who cares? (Wah, kaya nggak butuh cowok aja ya?)

Berhubung nggak terlalu banyak orang, hanya aku, Najma, dan beberapa gelintir yang aku kenali sebagai cowok-cowok sangar teman Najma yang pernah aku lihat beberapa kali, maka kehadiran cowok di sebelahku ini terasa banget deh. Biasanya nggak. Mungkin ini akibat efek kerennya kali ya? Hehe..

Dan tiba-tiba cowok itu menegurku. “Temannya Najma ya?” sapanya dengan suara yang ramah.

Aku menoleh, tersenyum, dan mengangguk. “Iya.” Jawabku singkat.

Cowok itu tersenyum. Menampakkan deretan gigi-giginya yang rapi. “Kenalin, gwe Dimas. Gwe temen Najma juga.” Katanya sambil mengulurkan tangan.

Aku mengulurkan tangan juga untuk bersalaman. Dan membalas, “Gwe Trisha.”

“Anak mana? Ekonomi juga?”

Aku mengangguk. “Lo anak mana?”

“Gwe? Gwe kuliah di Teknik.”

“Jurusan apa?”

“Mesin.”

Jawaban itu membuat aku langsung menoleh dua kali. Dan Dimas tersenyum. “Kenapa? Kayanya kok aneh gitu?”

“Jurusan itu isinya cowok semua ya? Nggak ada yang cewek?”

Senyuman Dimas berubah menjadi tawa. “Hahaha.. Yaahh, sebagian besar sih makhluk kaya gwe. Cuma kira-kira tiga sampai lima orang lah dari tiap angkatan yang cewek..”

“Dari berapa orang jumlah seluruhnya?” aku bertanya lagi. Sebenarnya aku menganggap percakapan ini adalah sebuah hal yang nggak berguna, hehe..

“Kira-kira tujuh puluh orang.”

Aku bengong. Kaya perawan di sarang penyamun ya?

“Habis ini mau ikut manjat juga?” tanya Dimas lagi.

Aku tersadar. Dan buru-buru menggeleng. “Nggak. Cuma nemenin Najma aja.”

“Mau ikut nyoba?”

Lagi-lagi aku menggeleng. “Nggak pernah kepikiran,” jawabku singkat. And that’s the real truth. Kan aku udah bilang tadi.

“Kenapa?” Dimas menatapku dengan pandangan agak menyelidik. “Seru lho. Enak. Mungkin untuk pertama kali agak-agak nervous kali ya.. Tapi gwe jamin lo bakalan nagih kalau udah pernah nyobain..”

Tapi aku dengan tegas menggeleng. “Nggak mau. Lagipula gwe takut.”

“Si Najma juga takut banget waktu pertama kali nyoba. Tapi berikutnya dia ketagihan.. Coba aja. Barangkali lo bakalan kaya dia, hehe..”

Aku tersenyum masam. “Nggak,” jawabku singkat.

Dan pada saat itu aku melihat tangan Najma tergelincir dari poin-poin yang ia pegang. Jatuh. Tapi reaksinya hanya tertawa-tawa sambil kesenangan karena ditepuktangani oleh sebagian besar yang hadir disitu.

“Tuh, Najma aja nggak apa-apa walaupun jatuh. Coba aja..”

Aku terdiam. Sepersekian detik tiba-tiba aku mempertimbangkan tawaran cowok bernama Dimas ini. Tapi pada akhirnya aku menggeleng. “Nggak mau.”

“Aman kok..” Dimas berusaha meyakinkan aku.

Aku menatap wajah Dimas. Berusaha menimbang-nimbang. Dan entah angin apa yang membuatku tiba-tba saja mengangguk sehingga tanpa basa-basi Dimas langsung menyeretku ke arah Najma yang sedang melepaskan tali pengamannya.

“Hoyy Ma, temen lo ada yang mau ikut nyoba manjat nih..” Dimas berteriak ke arah Najma sambil menunjuk-nunjuk aku.

Najma melihatku dengan pandangan nggak percaya. Dia sampai freeze di tempat.

Aku hanya tersenyum. Nggak meyakinkan.

Ini akan menjadi pengalaman baru buatku.

Toh, selalu ada pertama kalinya untuk setiap hal kan?

-xoxoxox-


“Trishaaaa..!! Metro lagi sale!!!” teriakan itu kudengar tepat sesaat setelah aku mengatakan ‘halo’. Bisa ketebak kan siapa yang menelpon aku? Tepat banget! Siapa lagi coba yang suka bicara dengan nada suara tinggi (baca : berteriak) kalau lagi excited? Cuma Maia orangnya.

“Metro? Sale? Kata siapa?” tanyaku kalem.

“Kata Karen. Barusan dia sms gw, katanya sih lagi di Metro, dan dia bilang diskon gitu.. Kesana yuk Shaa...” Maia mulai merengek.

“Paling cuma sepuluh atau dua puluh persen, Mai. Males ah hari gini. Kalau cuma segitu, besok-besok kan juga bisa..”

“Ini BIG SALE, Sha.. BIG SALE!! Tadi Karen beli tas yang harganya 150 ribu, didiskon tujuh puluh persen jadi cuma empat puluh lima ribu doang..!! Gila, siapa yang nggak pengen, Sha?”

Aku terdiam sejenak. Agak tergiur. “Yakin lo, Mai? Hampir semua barang ga? Apa cuma sedikit lagi?” aku berusaha meyakinkan. Soalnya kan males juga kalau udah jauh-jauh ke Metro tapi ternyata yang diskon cuma beberapa item.

A hundred percent! Karen aja excited banget. Dia masih disana. Mau ga kesana sekarang?”

Aku berpikir lagi. Pergi nggak ya? Males sih, tapi diskon di Metro gitu lho! Siapa yang nolak sih? Well, at least not me. Akhirnya aku mengatakan iya kepada Maia dan berjanji bertemu langsung di PI Mall.

Dan ternyata benar! Benar-benar BIG SALE! Pantesan Karen jadi kalap. Tadi aku ketemu dia di pintu keluar. Masya Allah, tas belanjaannya banyak banget. Aku sampai bengong. Dan sekarang tampaknya Maia berniat menyaingi Karen. Kayanya dia udah menguras habis isi tabungannya deh. Aku, kalau nggak inget bahwa masih ada setengah bulan lagi yang harus dijalani, bukan nggak mungkin menghabiskan uang jajanku bulan ini. Soalnya ini bener-bener godaan yang parah banget deh.

Dan setelah tiga jam muter-muter, aku membeli dua sepatu baru, satu celana jeans, satu tas, dan satu jaket. Uang jajanku hanya tersisa sedikiiitt..banget. Kayanya bakalan kelaperan nih di sisa bulan ini. Tapi itu masih mending, soalnya Maia bener-bener gila. Dia beli tiga sepatu, tiga tas, tiga rok, satu celana jeans, pernak-pernik kamar yang lucu (walaupun kalau dipikir-pikir nggak berguna), satu jaket, dan dua kacamata hitam. Aduh, kalap banget deh.

Tapi walaupun terancam kelaperan sesudahnya, tapi aku merasa mendapat energi baru. Udah lama aku nggak ngerasain hal kaya gini. Aku mengingat-inget, kapan ya terakhir kali aku jalan-jalan ke mall untuk besenang-senang sekaligus belanja? Astaga udah lebih dari tiga bulan yang lalu..

“Seneng kan Sha?” tanya Maia ketika kami sedang menunggu makanan yang kami pesan datang.

“Seneng?” aku mengernyit sambil tersenyum. “Iya sih, tapi dompet gwe ngga, hehe.. Bakalan mati kelaperan nih sebelum dapet uang jajan Maret!”

“Hehe.. Santai aja Sha! Apa gunanya gwe sebagai temen lo? Hehe..”

“Asyiik.. Lo nraktir gwe terus ya sampe akhir bulan? Huaah, lo emang baik banget jadi temen.. Ga percuma gwe temenan ma lo..”

Maia melotot. “Enak aja! Gwe yang mati kelaperan klo nraktir lo mulu tiap hari.. Kadang-kadang aja..”

Aku hanya tertawa saja. Aku tahu, ga mungkin banget dia mati kelaperan! Uang jajan pokoknya aja tiga kali uang jajan bulananku. Kalau pun itu habis, dia pasti meminta tambahan uang, dan pasti langsung diberi. Aduuh, kenapa aku kelihatannya seperti iri kepada Maia ya? Padahal kan nggak!

“Tadi Najma nyuruh gwe ngajak lo kesini waktu gwe bilang ada sale..” kata Maia membuyarkan pikiranku.

“Eh iya, Najma kemana sih? Kok nggak ikut?” aku baru teringat Najma saking terlalu excitednya dengan urusan belanja ini.

“Kasian deh dia. Kan sebenernya dia pengen ikut, tapi Reza nyuruh dia ke rektorat untuk ngurus apa gituuu.. Terus dia nyuruh gwe untuk ngajak lo.. Kalaupun lo nggak mau, gwe disuruh maksa, Hehehe..”

“Lho?” aku heran. Nggak ngerti.

“Yaa, abisan kayanya lo masih sedih terus sejak Reo..” Maia nggak menyelesaikan kalimatnya. Aku juga nggak berkomentar apa-apa.

“Lo masih sedih ya Sha?” tanya Maia hati-hati.

Aku terdiam. Nggak tau harus menjawab apa. Karena memang nggak tau apa yang aku rasakan sekarang. Selama ini aku hanya berusaha nggak berpikir sedikitpun tentang Reo. Walaupun kenyataannya nggak bisa.

“Sha?”

Aku menatap wajah Maia yang cemas. “Nggak tau deh Mai. Gwe nggak tau.. Nggak bisa dibilang sedih juga sih, karena gwe harus ngerelain dia. Kadang-kadang gwe ngerasa gwe nggak bisa ngejalanin hidup tanpa dia Mai..”

“Lo pasti bisa Sha. Walaupun harus berdarah-darah..” celetuknya.

Aku tersenyum agak pahit. “Seharusnya begitu.”

“Tapi waktu nggak akan nungguin lo, Sha. Hidup terus berlanjut..”

Tiba-tiba aku tersentak kaget. Seolah-olah disadarkan oleh kata-kata Maia barusan.

Waktu ga nungguin lo. Hidup terus berlanjut.

Hidupku memang terus berlanjut. Dan tanpa kusadari aku bisa melalui ini semua kan? Sudah dua bulan berlalu dan –walaupun hampir setiap malam masih menangis- aku bisa melaluinya. Bahkan diisi dengan hal-hal baru yang nggak pernah aku bayangkan aku bisa melakukannya.

Aku tersenyum kepada maia, “Lo bener Mai. My life is still going on..

Bab III

Bab III

Coincidences?

(or Signs?)


Hari ini hari Minggu. Sudah hampir 4 bulan aku menjalani hidup tanpa Reo. Aku sudah mengikhlaskannya, atau merasa aku sudah bisa menerimanya. Aku sudah tidak pernah menangisinya lagi, tapi kalo sekali-kali sih pernah..

Aku sekarang sedang membaca komik lama dikamarku. Sebenarnya aku ingin pergi jalan-jalan keluar rumah, tapi tidak ada teman. Al lagi ke luar kota untuk tugas kantornya, Maia lagi ada acara kawinan sepupunya, dan Najma jalan dengan Marsh. Tadi dia ngajak ikut sih waktu aku menanyakan ada acara apa hari ini, tapi ngapain juga gangguin orang berduaan? Hii.. Padahal aku lagi pengeen banget jalan-jalan, mau ke Gramedia, nyari buku. Aku memang membiasakan membeli buku tiap bulan, entah itu komik, Chicklit, novel Indonesia, atau buku psikologi. Pokoknya yang penting beli buku!

Sedang asyik tertawa-tawa sendiri membaca komik ‘One Piece’, tiba-tiba terdengar suara ‘there’s a letter in your mailbox!!’ dari speaker ponselku yang menandakan ada sms masuk. Aku mengambil ponselku, kemudian membuka inbox.

‘Hi Trish..Lg ngaps?Ini gw, Keiza!Lg ga ada kerjaan nih!Just wanna say how r u..Lo hari ini rncananya mau ngapain?’

Aku mengernyit sebentar. Keiza? Keiza siapa ya? Setelah beberapa detik memutar otak, aku baru ingat. Wah, parah banget ya? Baru juga kenalan 2 bulan lalu, udah lupa! Tapi aku ga lupa kok, buktinya sekarang udah inget. Udah ah, ga penting! Hump, bales ga ya smsnya? Ah, lagi tajir ini, baru ngisi pulsa kemaren, bales deh.. pikirku. Kemudian aku mengetik : ‘Gw lg baca komik!Gw pgn k Gramed sih rncananya, tp ga tau juga..Ga ada temen!Btw,gwe bae2 aja..’

Beberapa menit kemudian ada sms masuk lagi, dari Keiza lagi. ‘Wah,what a coincidence?Gw jg mau k Gramed! =) Mau bareng ga?’

Hump, gimana ya? Tawaran yang menggiurkan nih, walau pun kemungkinan besar dia boong! Lumayan dapet temen pergi bareng! Tapiii.. Gimana ya? Gwe kan ga kenal ma dia.. Lagian ntar dia GR lagi, dikira gwe ngasih-ngasih harapan ke dia. Anyway, kok gwe GR-an banget ya? Emang siapa yang bilang dia mau PDKT?, pikirku dalam hati.

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya aku putuskan untuk cuek aja menerima ajakannya. Kalau ternyata dia ga asyik, tinggalin aja. Kalo dia mau macem-macem, lapor ke Al. Kalo dia menganggap aku memberi harapan, ya itu masalah dia, hehe..

Setelah sms-an `berbalas pantun`, akhirnya dia mau menjemputku jam 12 nanti dan kemudian pergi ke Gramedia PIM, Gramedia terdekat dari rumahku. Aku pun segera mandi dan bersiap-siap.

Jam 12 kurang 10, bel rumahku berbunyi. Aku membuka pintu, dan mama melongok dari kamarnya untuk melihat siapa yang datang. Keiza datang dengan kaos hitam bertulisan `I’mHeRe@EveRyWhere.Com` dipadu dengan celana jeans ten-years-used dan sendal bukan jepit. Hmm, lumayan lah.. Tapi setelah kuperhatikan wajahnya, ternyata dia ga ganteng, hehe.. Waktu kenalan dulu ga begitu merhatiin sih!

Aku mempersilahkan Keiza masuk, dan kemudian duduk di ruang tamu. Mama kembali masuk kekamarnya, sekilas kulihat ia tersenyum.

“Hmph, mau langsung berangkat atau abis dzuhur aja?” tanyanya setelah duduk.

“Abis solat aja deh, tanggung!” jawabku. “Oh ya, mau minum apa?”

Keiza tersenyum, “Waah, ga usah repot-repot. Cuma sebentar doang kan disini! Tapi kalo ada syrup ga-pa-pa deh..”

Aku bengong sebentar. Bener kata Al, dia ga tau malu. Padahal kan ga kenal.. (dikit deh!) Tapi sedetik kemudian aku tertawa kecil dan ke dapur membuatkan syrup.

“Makasiih.. Btw, di rumah berdua aja ya sama nyokap?” tanya Keiza setelah aku menaruh minuman di meja depannya. Aku mengangguk.

“Lho, bokap lo mana? En, don`t have siblings?” tanyanya lagi sambil menaik-kan satu alisnya.

“Papa kerja di Makassar. Gwe punya adek cowo, sekarang kuliah di Unpad.”

Keiza ber-ooh, bersamaan dengan adzan dzuhur yang berkumandang dari mesjid dekat rumahku.

“Eh, gwe numpang solat ya..”

“Boleh. Gwe juga mau solat kok! Ayo, gwe anterin ke kamar mandi!”

Aku berjalan ke kamar mandi dan diikuti oleh Keiza. Setelah selesai berwudhu, aku menajak Keiza ke ‘mushalla’ rumahku.

“Mau jamaah ga?” Keiza menoleh ketika aku sedang memakai kerudung.

Aku mengangguk.

-xoxoxox-

Sekarang aku dimobil Keiza. Keiza sedang bersenandung mengikuti lagu ‘This Love’ yang mengalun diradio. Aku sedang sibuk berpikir, kok aku mau-maunya pergi sama dia ya? Heran deh! Aku jadi ingat Andry, yang dari dulu selalu mengajakku pergi berdua, selalu kutolak. Ini, si Keiza, yang baru muncul dalam kehidupanku satu hari, ngajak jalan sekali, langsung kuterima. Kasian juga ya si Andry? Hihi..

“Kenapa Trish, kok tiba-tiba senyum sendiri?” Keiza membuyarkan pikiranku, karena melihat aku yang tanpa sadar tersenyum sendiri karena mengingat Andry.

Aku mengernyit. Trish? Agak-agak nggak familiar dengan panggilan itu, walau tadi di sms dia menulis Trish juga, tetapi tetap saja aku tidak terbiasa, karena hampir semua orang yang mengenalku memanggilku dengan panggilan Sha.

“Hah? Ngga.. Ga ada apa-apa kok, cuma inget sesuatu.” jawabku setelah memulihkan diri.

“Mmh.. Eh, mau nanya deh! Lo suka baca buku apaan sih?”

“Gwe suka baca buku apa aja. Yaah, kecuali buku pelajaran lah, hehe.. Kenapa emang? Lo suka baca juga ga?”

“Yup! Gwe suka banget. Yeah, just like u, except text books.. Buku favorit lo apa?”

“Waah, banyak banget! Klo komik sih, sampe saat ini yang paling gwe suka Topeng Kaca, klo novel.. Hump, apa ya? Ga tau deh, banyak banget yang bagus!”

“Iya. Apalagi sekarang banyak banget novel-novel yang terbit. Heran, kaya kebanjiran buku gitu.”

“Iya, bener. Lo sendiri, buku favorit lo apa?” tanyaku. Ini basa-basi.

Keiza tampak berpikir sebentar. Lalu menjawab, “Michael Crichton. Semua buku Michael Crichton. Keren deh. Tapi yang paling gwe suka Timeline. Udah pernah baca?”

Aku mengernyit lalu menggeleng sambil nyengir. “Tapi pernah ngeliat bukunya di toko buku, hehe..” aku buru-buru menambahkan.

Keiza tersenyum. “Gwe juga suka Paulo Coelho. Tau nggak?”

Aku menggeleng lagi. “Emang dia siapa?”

“Yang nulis The Alchemist. Tau The Alchemist ga?”

“Hah? Dia yang ngarang The Alchemist? Siapa tadi namanya?”

“Paulo Coelho. Kenapa emangnya? Udah pernah baca?”

“Pernah.” jawabku excited. “That was a very great book. Tapi gwe baca versi bahasa inggrisnya sih. Jadi ya gitu lah.. hehe..”

Keiza nyengir lagi.

“Nggak nyangka banget ya orang kaya lo suka sama Michael Crichton dan siapa tadi pengarang The Alchemist?”

“Paulo Coelho..”

“Iya, Paulo Coelho. Nggak nyangka banget. Gwe pikir lo bukan tipe orang yang akan baca buku sejenis itu.”

“Emang menurut lo gwe tipe yang kaya gimana sampai lo berpikir kaya gitu?”

Aku nyengir. “Yaaa.. gitu lah.. hehe..”

“Maksudnya nggak nyangka orang kaya gwe suka baca buku yang serius?” ujarnya to the point. Walaupun maksudku memang itu, tapi kan nggak enak aja langsung ngomong secara frontal. Jadi ketika Keiza menyampaikan sendiri hal yang ada dalam benakku, aku langsung mengangguk mengiyakan. Tentu aja sambil nyengir. Takut kalo dia tersinggung.

Tapi ternyata dia malah tertawa. “Haha.. Daela, gitu aja pake ragu-ragu. Straight to the point aja lagi ma gwe.”

“Tapi kan baru kenal.. Nggak enak aja kalo ngomong langsung..”

“Hehe.. Iya ya? Emang klo baru kenal ga boleh jujur-jujuran gitu?”

“Yee.. Ga gitu sih maksudnya! Cuma menjaga perasaan orang aja.. Takut tersinggung!”

Keiza ber-Ooh, kemudian diam sejenak.

“Jadi klo udah kenal lama ga pa pa menyinggung perasaan orang?”

“Bukan gitu juga! Aah, tau deh.. Susah ngomong sama lo!” kataku gemes karena dia bego banget, ga tau boongan apa beneran.

Keiza tertawa ngakak.

Mobil Keiza sudah memasuki kawasan depan PIM, aku melanjutkan acara berpikirku, yang tadi terputus oleh percakapan Keiza. Aku merasa heran, aneh! Mengapa aku merasa nyaman bersama dia, tidak canggung or something like that seperti aku biasanya jika berhadapan dengan orang yang baru kukenal. Rasanya aku seperti sudah lama mengenalnya. Aku jadi berpikir, mengapa hal ini bisa terjadi ya? Padahal kalau dipikir, aku dan dia baru bertemu sekali sebelumnya, itu juga hanya ngobrol sebentar dengan suasana hatiku yang sedang buruk. Kemudian, aku tidak suka tipe orang seperti dia, yang suka sok akrab. Belum lagi gap umur kami yang lumayan jauh, sekitar 4 tahunan yang lumayan membedakan duniaku dan dunianya. Ditambah lagi, secara fisik pun dia tidak (begitu) menarik, hehe.. Tapi, mengapa sekarang aku malah mau menerima ajakannya pergi, dan bahkan merasa nyaman bersamanya?

“Hoi Trish? Mau dimobil aja?” pikiranku buyar untuk kedua kalinya oleh suara Keiza. Aku tersentak, dan melihat sekeliling. Ternyata mobil Keiza sudah terparkir rapi.

-xoxoxox-

Setelah dua jam berkutat di Gramedia, membaca dan melihat-lihat buku, akhirnya aku memutuskan untuk membeli ‘Dicey’s Song’, salah satu Tillerman series, yang merupakan side story dari ‘A Solitary Blue’, sebuah novel lama yang ternyata setelah kupikir-pikir merupakan novel favoritku. Ceritanya benar-benar bagus.

“Hump, mau makan ga? Gwe laper niyy..” tanya Keiza setelah kami membayar buku-buku kami.

“Hmm, boleh deh. Mau makan apa?”

“Yaah, terserah lo deh! Gwe mah terserah! Gwe suka apa aja. Gwe kan ga tau lo suka makanan apa!”

“Udah lah, terserah lo aja.. Gwe juga suka apaan aja kok! Gwe lagipula ga begitu laper, tadi makan paginya jam sebelas!” balasku.

“Aduuh, ga tau nih! Terserah lo aja deh..” balasnya lagi.

“Yee, ga makan nih klo kaya gini terus!”

“Iya deh.. Ayo makan klo gitu! Dimana tapinya?” tanyanya (sok) polos.

“Iiih.. Ni anak menyebalkan banget sih! Udah cepetan deh, tentuin mau dimana,” kataku galak.

“Hehe.. Gwe kan bingung mau makan apa.. Gini aja deh, gwe kasih pilihan. Mau Pizza apa HokBen?” tanyanya lagi.

“Aduuhh.. Udah deh! Terserah lo aja.. Kan lo yang pengen makan!”

“Lho, jadi lo ga makan? Ya udah, ga usah deh klo gitu.. Makan dirumah aja ntar!”

“Yee.. Lo tuh ngeselin banget deh! Heran! Udah gede juga, masih aja suka meributkan hal ga penting kaya gini..”

“Lho, lo juga.. Kan gwe meributkannya sama lo, hehe.. Btw, jadinya lo milih Pizza apa HokBen?” jawabnya ngeyel.

“Ya ampuun.. Kok bisa-bisanya ya gwe khilaf mau jalan sama lo?”

Keiza tertawa ngakak. Kemudian diam sejenak.

“Jadi mau Pizza apa HokBen?” tanyanya lagi.

Aku menghela nafas. Aduh, susah banget deh ngomong sama orang kaya dia.

“Ya udah, pizza aja deh. Kemaren baru makan HokBen soalnya.” kataku, akhirnya.

“Huaah, akhirnya..” Keiza sok menghembuskan nafas lega. “OK, lets go!”

Akhirnya kami berdua masuk ke Pizza Hut, pada saat menentukan pizza apa yang hendak kami pesan hampir terjadi perdebatan panjang seperti tadi, tetapi aku langsung mengancam akan pulang jika ia tidak segera menentukan pilihan, akhirnya ia menyerah.

“Btw, biasanya lo klo makan pizza large berapa slice?” tanya Keiza setelah akhirnya memutuskan memesan black paper chicken pizza ukuran large.

“Hump, liat aja nanti..” jawabku sambil tersipu. Kenapa aku tersipu ya?

“Hehe.. Makannya banyak ya? Bagus deh! Gwe suka ma cewe yang ga jaim!”

“Apa tuh maksudnya?”

“Ga ada maksud apa-apa..”

Setelah itu hening.

Aku tidak tahu harus berkata apa. Beberapa saat kemudian Keiza mengeluarkan ponselnya dan melakukan gerakan seperti menulis sms. Aku mengambil tasku, dan mengeluarkan novel yang baru kubeli tadi.

Aku mulai membaca.

Aku hampir tenggelam dalam novelku, ketika aku tersadar aku sedang bersama Keiza, yang kira-kira sudah sepuluh menit aku acuhkan. Aku menutup novelku, dan melirik ke arah Keiza.

Mataku bertemu dengan matanya.

Astaga! Dia ternyata sedang memandangiku, tidak tahu sejak kapan!

Aku langsung mengalihkan pandanganku, dan memasukkan novelku ke dalam tas. Kembali kulihat Keiza, kali ini tidak memandang matanya, tapi aku tahu ia masih memandangiku. Ia tersenyum, tidak ada tanda-tanda ‘salting’ seperti aku tadi.

“Muka lo lucu deh..” Keiza tersenyum masih menatapku.

Apakah wajahku merona merah? Aku tidak tahu, tapi mudah-mudahan saja tidak.

“Maksudnya apa?” jawabku setelah berhasil menguasai diri.

“Yaa, lucu! Ga ada maksudnya.. Coz bibir lo selalu membentuk senyuman!”

“Ah, masa sih?” Aku tersipu untuk kedua kalinya.

“Bener kok. Gwe suka banget ngeliatin muka lo!”

“Yee.. Tapi gwe ga suka diliatin!”

“Lho, kenapa emang?”

“Ya ngga suka aja. Hak gwe kan klo gwe ga suka?”

“Hehe, iya sih..”

Percakapan kami terhenti karena muncul pelayan yang mengantarkan pesanan kami.

Keiza mengucapkan terima kasih kepada pelayan itu, kemudian memotong satu slice pizza dan menaruh ke piringku.

Aku sedikit terkejut. Waah, dia gentle juga!, pikirku. “Makasih yaa..”

Keiza hanya tersenyum. Kemudian ia mengambil satu slice untuk dirinya, dan setelah itu kami makan dalam diam.

Aku menghabiskan tiga slice pizza, Keiza pun demikian.

“Hmm, lo mau makan satu lagi ga?” tanya Keiza.

“Kenapa emang?”

“Ya ngga, klo lo makan, gwe juga makan satu lagi. Klo lo udahan, ya bungkus aja dua-dua-nya!”

“Lho, kok gitu?” Aku mengernyitkan alis.

“Iya, gwe udah kenyang. Tapi yaa, bisa lah untuk satu slice lagi! Tapi klo lo udah kenyang, ya bungkus dua-dua-nya aja, ga enak bungkus cuma satu doang!”

“Diih, klo lo mau makan, makan aja lagi. Yang satu gwe bungkus pake tissue aja.”

“Jadi lo ga mau makan nih kesimpulannya?”

Aku mengangguk.

Keiza memanggil pelayan untuk meminta bill dan minta tolong untuk membungkus sisa pizza kami. Beberapa saat kemudian pelayan itu kembali membawa bill dan plastik berisi pizza sisa tadi. Keiza memberikan sejumlah uang ke pelayan itu, ketika pelayan itu kembali lagi untuk memberi uang kembalian, Keiza meninggalkan tip diatas meja.

Hump, satu hal positif lagi dari dirinya, pikirku.

Aku mengambil plastik pizza, dan kami berjalan keluar.

Now what? Mau pulang?” tanya Keiza sambil melihat kearahku. “Eh, sini deh, gwe bawain plastiknya..” lanjutnya sambil mengulurkan tangan.

“Makasih.. Hmm, ya udah, pulang aja deh. Kecuali lo mau belanja dulu..”

“Hahah.. Belanja apaan? Lo kali tuh mau belanja.. Klo ngga sih, ya shalat ashar dulu aja deh.. Udah jam setengah empat!”

“Ngga. Gwe cuma belanja buku doang. Ya udah, solat dulu yuk!”

Kami pun berjalan menuju mushalla. Setelah selesai sholat, kami menuju mobil Keiza. Keiza membukakan pintu mobil untukku, sambil membungkukkan badan dan berkata, “Silahkan tuan puteri..” Reaksiku hanya tertawa, tetapi dalam hati aku menambah poin lagi untuk kelebihan Keiza.

-xoxoxox-

-xoxoxox-

Aku memandang deretan rak minyak goreng. Astaga! Aku lupa. Tadi mama nitip minyak goreng merk apaan ya? Sial. Seharusnya tadi dicatat. Gini nih akibat overpede terhadap kemampuan otak. Akhirnya, setelah menghela napas, aku berjalan pelan menyusuri koridor yang kebanyakan dipenuhi oleh ibu-ibu. Aku melirik ke deretan rak sebelah kiri. Ya ampuun, begitu banyak merk yang terpampang, membuat aku semakin bingung dan tambah tidak ingat, sebenarnya tadi mama nitip merk apa ya? Mana merk-nya nggak terlalu familiar lagi. Bukan yang sejenis bimoli atau filma, katanya impor dari Malaysia, makanya cuma ada di supermarket tertentu aja. Ya salah satunya di supermarket ini.

Aku memperhatikan satu persatu merk minyak goreng impor dan menemukan satu merk yang namanya mirip (atau sengaja aku mirip-miripin) dengan yang dipesan mama tadi. Setelah berpikir dan menetapkan hati sebentar, akhirnya kuputuskan untuk mengambil satu botol berukuran dua liter dan memasukkannya ke dalam troli.

Setelah itu aku berbelok ke koridor yang memajang deretan es krim yang membuat aku hampir meneteskan air liur. Sambil melihat-lihat dan memilih-milih mana yang kira-kira enak. Hmph, sebenarnya dapat dipastikan bahwa semuanya enak, tapi kan aku hanya dapat membeli satu kotak, jadi harus memilih dengan seksama agar tidak menyesal nanti, tiba-tiba terdengar sebuah suara menyapa.

Is it just coincidence or is it a destiny?”

Aku menoleh begitu mendengar suara yang seolah berbicara kepadaku. Dan terlihatlah satu sosok yang kukenal. Selama sepersekian detik aku melongo, lalu, “Keiza?”

Keiza, si pemilik suara itu mengangguk dan tersenyum -atau lebih tepatnya nyengir- “Ngapain Trish disini?”

Aku mendengus, ni cowok nggak tau apa kalau aku lagi belanja? Jelas-jelas ketemu di supermarket, lagi ngedorong troli lagi.. Apalagi namanya kalau bukan lagi belanja? Berenang? Nggak kan?

“Keliatannya lagi ngapain?” tanyaku balik tanpa menjawab pertanyaannya.

“Emm, “ dia memperhatikan aku dengan seksama dari ujung kepala sampai ujung kaki. From head to toe. Bikin risih aja. Setelah tampaknya pura-pura berpikir sebentar, dia berkata, “…kayanya lagi belanja ya?”

Aku menjentikkan jari dan menimpali dengan pura-pura excited, “Wah, gila! Lo bener!! Pertanyaan gwe emang cuma bisa dijawab oleh seorang lulusan S2!”

Sekarang Keiza nyengir. Seperti biasa yang kukenal, Keiza hampir selalu nyengir sepanjang waktu. Bukan tersenyum dangan menarik bibir membentuk suatu senyuman, tapi bener-bener nyengir dengan menarik bibir dan memperlihatkan deretan giginya.

“Ah, lo geblek banget sih! Ya jelas-jelas lagi belanja emang!” lanjutku. Aku merasa heran, mengapa aku dapat berkata seperti itu. Karena aku tidak mengucapkan kata ‘geblek’ -yang notabene kasar- ke sembarang orang, hanya orang yang dekat saja karena aku tahu mereka tidak akan tersinggung. Tapi sekarang aku mengucapkan ke Keiza, seorang yang dapat dikatakan baru kukenal.

Keiza nyengir lagi.

“Belanja apaan?” kali ini dia melanjutkan topik tentang belanja ini.

“Titipan nyokap. Nanti malam ada tamu, jadi mau masak spesial, jadinya gwe disuruh belanja deh..”

Keiza hanya mengangguk-angguk sok mengerti. “Sama siapa, Trish?” dia celingak-celinguk kiri-kanan mencari siapa yang kira-kira berpotensi sebagai orang yang menemaniku belanja. Tapi nihil, maka itu pandangannya kembali ke arahku dan mengharapkan jawaban.

Akhirnya aku jadi tersenyum dan menjawab pertanyaannya. “Sendirian aja. Nggak ada yang mau nemenin. Tadi minta temenin Al, tapi ternyata dia lagi kerja gila-gilaan. Baru dapet proyek katanya.” Dan saat itu juga aku memutuskan bahwa es krim yang kubeli adalah double chocolate with chocochips. Kuambil dan kumasukkan ke dalam troli. Aku melirik Keiza. Dia memperhatikan dengan seksama es krim yang kuambil. Apa sih yang bisa lepas dari pandangannya?

“Lo sendiri sama siapa? Ngapain disini hari gini?” giliran aku yang bertanya kepadanya.

“Eh? Engg..” Keiza tampak bingung sesaat, tapi kemudian dia menjawab. “Sendirian. Tadi sih niatnya mau beli keripik kentang. Tapi kok tiba-tiba jadi nggak nafsu ya?”

“Keripik kentang?” Tanyaku heran. “Buat apaan?”

“Buat ngemil.” Jawabnya lagi-lagi sambil nyengir.

Aku menatapnya dengan pandangan aneh lagi. Sebenernya nggak ada yang salah dengan jawabannya, tapi kok rasanya kucu dan aneh aja mendengar jawaban itu. Ngemil? Ngapain juga dia jauh-jauh beli cemilan doang ke supermarket gede gini? Btw, rumahnya dia dimana ya? Kaya ga ada warung aja deket rumahnya.. Tapi pertanyaan ini hanya kusimpan dalam hati, aku malas menanyakannya.

Dan karena pertemuan ini, akhirnya sepanjang sisa waktuku mencari barang-barang pesenan mama, aku ditemani Keiza. Lumayan kan, nggak garing sendirian. Apalagi Keiza kayanya begitu atraktif dan membuat aku merasa senang, nyaman, dan kayanya aku udah mengenalnya seumur hidupku.

Begitu selesai membayar semua barang belanjaanku di kasir, Keiza, yang sedikit kerepotan membawa barang belanjaanku (ini salah satu advantage lagi ditemani belanja oleh dia. Huff, thanks God ada dia, klo ngga, ga tau deh gmana aku membawanya sendirian!), bertanya, “Mau mampir sebentar nggak?”

“Mampir?” aku bingung. “Mampir kemana?”

Keiza menunjuk salah satu toko kecil di sudut bagian luar supermarket yang tampak dipenuhi orang. Ice cream and brownies corner. “Kesitu.. Suka es krim kan?”

Aku bengong.

Melihat aku yang nggak bereaksi, Keiza menambahkan insentif. “Sundae double chocolate with chocochips?”

Mendengarnya, lagi-lagi aku hampir meneteskan air liur. Maka tanpa sadar aku pun mengangguk.

Dalam jangka waktu yang nggak begitu lama, tau-tau aku sudah berada di pojokan toko es krim ini sambil menyesap satu porsi sundae yang dijanjikan Keiza. Enak banget. Beneran. Nggak nyesel deh mampir.

“Sering kesini, Kei?” tanyaku disela-sela menikmati sundae yang rasanya dahsyat itu.

Keiza, yang sedang menikmati browniesnya, berpikir sebentar sebelum menjawab, “Mmmh… lumayan. Abis enak banget browniesnya..”

“Sejak kapan?”

“Sejak kapan apanya?”

“Sejak kapan sering dateng kesini?”

“Hump, sejak kapan ya? Sejak baru pertama kali buka..”

“Pantesan..” aku bergumam. Jawaban ini seakan menjawab semua keherananku. “ .. pantesan kayanya semua pelayannya tuh udah kenal akrab banget sama lo gitu..”

“Ya iyalah, pastinya..” ujarnya jumawa.

Jawaban yang males banget. Aku mencibir. Dasar overconfidence! “Pede!” timpalku malas.

“Ya iyalah mereka kenal sama gwe..”

“Emang kenapa?”

“Karena gwe yang punya toko ini..”

-xoxoxox-

“Yah Al, masa disuruh nemenin gitu doang nggak mau…” aku menarik-narik selimut yang menutupi sebagian besar tubuh Al yang walaupun jarum jam udah menunjukkan waktu hampir jam dua belas siang, tapi Al masih meringkuk di tempat tidurnya. “Sahabat macam apaan lo, Al..”

Hari ini hari minggu lagi, aku berada dikamar Al karena tadi di depan kata mama Al, Al masih tidur, jadi aku disuruh kekamarnya, sekalian membangunkannya.

Al menggeliat sebentar lalu menarik kembali selimut yang tadi kusingkap dan kemudian menutupi wajahnya dengan bantal. “Yah, Sha, bukannya gwe nggak mau..” suaranya serak-serak jelek tanda nyawanya belum kumpul. “..tapi gwe ngantuk banget nih.. Semalem gwe begadang nyelesaiin desain proyek yang baru. Baru tidur jam sembilan tadi.. Mana belum selesai lagi…”

Oh, proyek itu. Lama amat selesainya. “Emang udah berapa persen?”

“Hmmh?” suara bantalnya Al kembali terdengar. Kayanya dia baru setengah sadar. “Apaan?”

Aku merengut sebel. “Emang udah berapa persen?”

“Oooh.. itu.. Yaaah, 75% lah.. Tinggal finishing sih, tapi itu juga kalo finish..”

“Deadlinenya kapan?”

“Dua minggu lagi.”

“TUH KAAAN…” aku setengah berteriak sambil kembali menarik selimutnya, “Masih lamaaa..!! Anterin dong, Al.. Pliiissss..”

Tapi Al nggak bergeming. Dia hanya menimpali dari balik bantalnya. “Udah.. naik bis aja.. Metro..”

“Ogah!” tampikku sebel banget. “Males banget naik metro.. Panas!”

“Ya udah, naik taksi ajah..”

“Naik taksi.. Duit dari mana? Dari Hongkong? Gwe mau beli buku aja mesti ngirit-ngirit!”

“Ya udah, naik busway..” usul Al lagi. Makin membuat aku ingin menyiramnya dengan air.

“Mana lewat JCC! Lagian kalo naik busway, gwe mesti ke blok M dulu. Dari sini ke Blok M naik apa? Ya, tepat! Naik Metro!” aku mulai membentak-bentak karena sebel banget. “Ayoo dong, Al..”

Akhirnya setelah perjuangan dan penantian panjang, Al menampakkan wajahnya juga. Bantal yang menutupi wajahnya dia lempar. Dengan wajah yang masih bau bantal, dia mengangguk. “Iya..iya.. bawel banget. Nggak tahan, gwe…”

“Gitu dong.. That’s what friends are for..”

Al mencibir. “Semoga yang diatas mencatat kebaikan kecil gwe hari ini..” gumam Al pelan sambil berdiri mau menuju kamar mandi.

Aku hanya nyengir puas. Asyik.. Nggak jadi naik Metro, hehe..

-xoxoxox-

Penuh banget. Itu dua kata yang bisa kuungkapkan begitu melihat JCC siang ini. Apa mungkin karena hari ini adalah hari terakhir bookfair, makanya pengunjungnya sampai begitu berjubel. Tapi demi buku murah, apa aja kujalanin. Termasuk mendengarkan ocehan dan gerutuan Al sepanjang perjalanan. Jarak Senayan-Bintaro kan lumayan.

Selagi asyik melihat-lihat tumpukan buku yang berlabel ‘diskon 40%’ aku melirik Al. Ternyata dia lagi sibuk juga melihat-lihat setumpuk novel Tom Clancy. Al amat sangat tergila-gila dengan novelnya Tom Clancy, jadi ketika novel Tom Clancy ikut berlabel diskon walaupun hanya 20%, Al langsung bersemangat mengubek-ubek tumpukan buku itu.

“Emang itu terbitan baru, Al?” tanyaku sambil lalu ketika melihat Al sudah membawa tiga buah bukunya Clancy.

Al menggeleng. “Nggak sih, tapi gwe belum punya yang ini. Kemarin gwe minjem punya Rama.”

Aku mengangguk-angguk mengerti. Lalu kembali menekuni tumpukan buku diskon 40 % itu. Al juga ikut-ikutan melihat-lihat disampingku.

Beberapa saat kemudian, “Lho Kei?” aku mendengar suara Al menyapa seseorang.

“Lho Al? Ngapain? Sama siapa?”

Begitu mendengar suara itu, aku langsung mengangkat wajahku. Oh no! Oh my God! How come? Bagaimana bisa aku sering banget bertemu dia sih? Dimana pun dan kapan pun. (hmph, well, mungkin nggak segitunya sih..) Tapi ini.. Astaga! Aku sampai speechless. Masa dalam seminggu aku 4 kali bertemu dengannya, dengan 3 kali tanpa sengaja?

Kemudian aku mendengar Al berkata, “Sama Trisha. Tadi pagi dia nyeret gwe supaya ditemenin kesini.” Lalu dia tertawa. Keiza juga. “Hai Trish..” sapanya sambil nggak lupa memamerkan deretan giginya.

Aku tersenyum membalas sapaannya. “Hai Kei..” ujarku pelan. Hampir nggak terdengar.

“Sama siapa lo, Kei?” Al kembali mengembalikan pembicaraan kepada mereka berdua.

“Oh, eh.. sendirian aja. Tadi abis ngedrop nyokap di plaza semanggi, trus gwe liat spanduk di depan, eh ada bookfair ternyata, ya udah, gwe mampir aja. Eh taunya ketemu lo disini..”

“Kebetulan banget ya?” Al nyengir. “Mau gabung aja nggak? Barengan..”

Keiza mengangguk-angguk setuju. Aku hanya menatap mereka berdua dengan pandangan nggak jelas. Sambil nyengir juga. Kayanya kita bertiga basi banget deh.

“Eh, gwe ke toilet dulu ya..” Al tiba-tiba menaruh tumpukan novel Tom Clancy-nya di kedua tanganku. Wajahnya meringis. “Gwe nggak tahan banget nih..”

Aku melongo, sementara Keiza hanya mengangguk-angguk nggak jelas lagi.

Dan begitu Al menghilang di balik kerumunan orang-orang, Keiza memulai pembicaraan, “Gwe rasa, kayanya kita sering ketemu dengan cara kaya gini ya?”

Aku memandangnya dengan penuh keheranan. Nggak ngerti akan pernyataannya barusan. “Cara begini gimana?”

“Nggak sengaja. Serendipity. Ketidaksengajaan yang menyenangkan. And for me, it’s really a pleasure..

Aku bengong menatap Keiza yang tampaknya mengucapkan tiap patah kata dengan sungguh-sungguh. Nggak tau harus bereaksi bagaimana.

-xoxoxox-

Yang namanya menunggu itu emang bikin bete banget. Seperti aku sekarang, nongkrong di kopetri sendirian nungguin Maia dan Najma yang lagi kuliah. Ga sendirian juga sih, ditemenin Jay, penjaga kopetri yang hobinya ngegosip. Sebenarnya aku sudah tidak ada kuliah lagi, tapi tadi, waktu aku ingin pulang, ada sms dari Maia yang kemudian disusul oleh sms Najma, yang menyatakan (atau lebih tepatnya menyuruh) aku untuk jangan pulang dulu. Disuruh nunggu di lobby karena ada sesuatu yang ingin mereka tunjukkan. Payahnya, mereka sok rahasia banget, tidak mau memberi tahu tentang apa. Tapi setelah aku mengancam untuk pulang kalau tidak diberi clue, akhirnya Maia memberi tahu ada apa sebenarnya.

Ternyata mereka hanya ingin aku menjadi juri (atau apapunlah sebutannya), terhadap seorang cowok. Jadi begini, hari ini ada dosen tamu di kuliahnya Maia dan Najma. Masih muda. Nggak kaya dosen-dosen yang biasanya ngajar deh.. Jelas aja lumayan banget buat refreshing. Nah, Maia bilang kalau si dosen tamu ini keren, sementara Najma nggak setuju. Nggak ada keren-kerennya sama sekali, kecuali cara ngajarnya yang emang oke berat. Najma sampai terkagum-kagum sendiri. Semua materi yang disampaikan hari ini, tentang SDM, mulus terserap oleh otaknya yang biasanya hang karena overloaded. Nggak tau emang otaknya yang lagi oke berat, atau cara ngajar si dosen tamu yang keren abis. Tapi yang jelas, Najma sampai jadi tertarik untuk mengambil konsentrasi ESDM gara-gara dosen itu. Hebat kan?

Jadi disinilah aku. Sendirian terbengong-bengong di dalam kopetri menanti mereka keluar kelas. Tadinya aku mau nunggu di Labkom, tapi penuh banget. Si Jay, penjaga kopetri, sedang melayani para mahasiswa yang membeli-beli cemilan. Tadi sih waktu sepi aku mengobrol dengan Jay, yang kayanya ga mungkin kehabisan bahan gosip. Tapi sekarang tiba-tiba banyak mahasiswa yang datang dan akhirnya aku bengong sendirian karena Jay sibuk.

“Lho Sha, ngapain bengong disitu?” tiba-tiba ada seseorang menegurku.

Aku mendongak, dan melihat wajah Andry. Aku agak terkejut, selain karena sudah lama tidak melihatnya, juga karena berpikir jangan-jangan dia mau mengajak-ku ke mana gitu. PD banget ya? Hehe..

“Eeh Andry.. Kita udah lama ga ketemu ya?” kataku akhirnya.

“Iya.. Lo sibuk banget sih!” jawabnya sambil tersenyum.

“Ah nggak ah.. Lo aja tuh yang udah lama ga nelpon-nelpon gwe lagi..” Aku terkejut dengan ucapanku barusan. Tidak seperti yang kuinginkan. Mungkin karena lagi butuh teman ngobrol, jadi aku bicara sembarangan kaya gini. Gawat deh kalo dia sampe GR.

“Iya juga yah? Berarti gwe dong yang sibuk? Hehe..”

Aku tertawa juga.

Tiba-tiba ada seorang cewe yang memanggil Andry dari dekat pintu, yang sepertinya anak 2003. Andry menoleh, dan berkata, “Iya, sebentar ya yang..” –aku mengernyit- “Eh Sha, duluan ya.. Gwe udah dipanggil-panggil Vita tuh..”

Aku hanya mengangguk dan memandangi Andry yang berjalan ke arah anak 2003 itu, yang kata Andry bernama Vita, dan kemudian menggandengnya.

Ooh, ternyata itu alasan mengapa Andry sudah tidak pernah lagi muncul tiba-tiba didepanku, juga tidak lagi menelepon maupun sms aku. Bagus deh kalo gitu, aku jadi sedikit lega karena satu masalahku hilang. Walau yaah.. Ada sedikit rasa kecewa karena kehilangan salah satu fans-ku, hehe..

There`s a letter in your mailbox!” Aku melihat ponselku dan membaca sms yang masuk, dari Maia. Untung mereka masih ingat untuk menghiburku, walau dengan sms-sms yang nggak penting, jadi aku ga bengong terus. Emang beneran nggak penting banget, mareka berdua sms saling menyanggah. Setiap Maia bilang tuh dosen keren, maka pasti ada sms susulan dari Najma yang bilang kalau dosennya nggak ada keren-kerennya. Charming iya, tapi mukanya biasa aja, ga ganteng malah. Walau cara ngajarnya luar biasa!

Begitu terus deh selama dua puluh menit kemudian. Benar-benar nggak penting banget kan? Aku sampai heran sendiri, kok aku tahan ya tiga tahun berteman dengan makhluk-makhluk seperti kedua sahabatku itu? Ternyata kesabaran manusia itu bisa tidak berbatas ya..

Akhirnya Maia sms kalau kuliahnya sudah hampir selesai. Aku pun berjalan ke depan kelas mereka. Begitu sampai, terlihat mereka berdua baru keluar dari pintu. Wajah mereka terlihat sumingrah. Dalam hitungan ketiga mereka pasti menghampiriku dan langsung mengoceh. Taruhan sejuta.

Aku menghitung dalam hati. Satu… dua… Ti..

“Sha, lo mesti liat.. dia keren banget!! Gwe nggak ngerti kenapa Najma bilang dia nggak ada keren-kerennya sama sekali. Jelas-jelas dia itu keren abis gitu lhoow..”

Tuh kan, bahkan belum sampai hitungan ketiga dan jarak diantara kami masih terpisah sekitar delapan meter, Maia sudah mengoceh dengan semangat.

“Gitu lo bilang keren? Astaga, Mai!!” Najma menimpali sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tanda nggak setuju.

Duh, dua orang ini childish banget deh. Aku jadi bingung harus ngapain.

“Makanya lo harus liat dia, Sha.. Lo jadi juri bagi gwe dan Najma. Menilai apakah dia keren atau nggak.” Maia berkata sambil mengelus-elus bahuku.

Males banget deh. Tapi aku mengangguk juga. “Sekarang mana tuh orang?” tanyaku tanpa semangat.

“Tungguin aja. Bentar lagi juga keluar..” jawab Najma sambil melongok-longok mencari si dosen tamu itu.

“Iya, tadi sih pas gwe keluar, dia lagi ngobrol sama Pak Ferry..” timpal Maia sambil nggak lupa ikut celingak-celinguk.

Akhirnya aku juga ikut celingak-celinguk juga sambil berusaha memanjangkan leher mencari dan menebak-nebak yang manakah sosok dosen tamu yang menjadi pro-kontra diantara kedua sahabatku itu.

Setelah beberapa saat, Maia kembali mengeluarkan pekikannya, “Eh, itu dia.. itu dia..”

“Mana? Mana?” tanyaku dengan semangat yang muncul tiba-tiba.

“Itu.. sekarang lagi keluar kelas. Tuh..tuh.. eh, dia jalan kesini.. duh gwe jadi gugup nih..”

Aku menoleh ke arah Maia dan menatapnya dengan pandangan prihatin. Duh, gitu aja kok norak banget ya? Kulirik Najma, ternyata dia juga lagi cengar-cengir memperhatikan kelakuan Maia. Geblek banget.

Dan ketika aku menoleh kembali ke arah yang ditunjukkan oleh Maia, seketika aku terkesiap.

Tebak siapa yang kulihat?

Keiza.

Berjalan menuju ke arah kami sambil (lagi-lagi) memamerkan senyum pasta giginya.

Disampingku, Maia melonjak-lonjak.

Tapi aku nggak peduli.

Waktu langsung berjalan pelan seperti slow motion di film-film.

Dunia tiba-tiba langsung terasa sunyi, yang terdengar hanyalah samar-samar lagu ‘Star’-nya Reamonn sebagai background..


You are my star shining on me now,

A love from world's apart

I need for you

You are my shining star…


“Bener kan keren?”

Pertanyaan Maia membuat adegan film tadi terputus tiba-tiba. Aku kembali dari semua fatamorgana yang membuat aku terbengong-bengong. Habis melirik Maia, aku kembali menoleh ke arah tadi. Itu beneran Keiza bukan ya? Atau memang benar-benar fatamorgana?

Aku langsung tahu jawabannya ketika aku menoleh.

Astaga.

Dia memang benar Keiza.

Dan dia tersenyum ke arahku.

Eh, tunggu..tunggu..tunggu.. Kok kayanya ada yang berubah ya dari penampilannya?

Selama sepersekian detik aku memperhatikan dengan seksama. Mencari apa yang membuat Keiza lebih terlihat ‘bersinar’ hari ini, selain karena pakaian resmi dengan kemeja lengan panjang digulung setengah dan celana bahan.

Ternyata ia memakai kacamata.

Keliatan lebih intelek dan pintar. Dan bener kata Maia, keren.

“Trisha! Hei, seneng banget bisa ketemu lo disini…” sapa Keiza ketika jarak diantara kami hanya tinggal dua meter.

Aku tersenyum manis.

Kemudian aku melirik dari sudut mataku. Najma melongo, dan Maia hampir tidak dapat mengatupkan rahangnya karena kaget.

Bab IV

Bab IV
So, the truth is …
(a monologue for myself)


I’ve been wondering.

Beberapa waktu terakhir ini aku sedang memikirkan perasaanku. Perasaanku terhadap Keiza. Sekarang sudah lebih 6 bulan sejak kepergian Reo, dan berarti 4 bulan aku mengenal Keiza. Dalam 2 bulan terakhir, aku jadi sering jalan dengannya. Ia kadang-kadang menawarkan diri untuk mengantarku pergi, atau pulang dari kampus. Atau kadang-kadang ia mengajakku pergi menemaninya jalan-jalan. Ngga selalu berdua sih, kadang-kadang dengan Al, atau dengan Maia dan Najma. Oh ya, saat ini dia kan pengangguran, paling hanya mengurus Ice Cream&Brownies Corner-nya saja. Dari semua yang kulihat, kualami dan kurasakan, kayanya aku menemukan suatu fenomena baru. Aku baru menyadari kalau ternyata Keiza sudah masuk sebegitu dalamnya di kehidupanku. Dalam beberapa bulan terakhir ini, ia menerobos masuk jauh ke dalam kehidupanku, dan herannya, aku tidak menghindar, bahkan tidak berusaha untuk itu. Payahnya lagi, selama ini aku tidak sadar. Dan, BUM! Sekarang kaya dijatuhin bom.. tiba-tiba menyadari semuanya.

Selama ini, apalagi semenjak kematian Reo, tidak ada cowok yang dekat denganku. Hump, kecuali Al ya.. Setiap ada cowok yang berusaha masuk ke dalam hidupku, aku langsung jaga jarak. Menghindar. Ya contoh konkretnya kaya Andry. Kadang-kadang nggak tega sih, tapi begitu aku mulai bisa membaca tanda-tanda mau kemana arah hubungan itu, aku langsung menarik diri. Kan aku sudah bilang, I’m not in the mood for relationship. For now.

Tapi dengan Keiza beda rasanya. Yah, salah satu faktornya mungkin karena memang Keiza tidak ada maksud untuk PDKT. But, who knows? Dalamnya laut dapat diduga, tapi dalamnya hati siapa yang tau sih? Aku tidak mau berprasangka dengan Keiza, tapi curiga sedikit boleh dong.. hehe.. (atau ini ngarep ya?) Tapi sebenarnya sejauh ini, nggak ada tanda-tanda yang obvious, jelas dan tegas bahwa selama ini Keiza memang niat buat PDKT. Jadi aku men-stop pikiranku supaya tidak memikirkan hal itu lagi. Berhasil? Kita lihat aja nanti..

Yang jelas, dengan Keiza aku merasa beda. Dia emang orang baru dalam hidupku, tapi rasanya aku sudah mengenal dia seumur hidupku! Bukan bermaksud untuk membanding-bandingkan, tapi rasanya memang beda kalau misalnya aku bersama Al (dengan cowok yang satu ini aku mungkin sudah lupa bagaimana rasanya mempunyai perasaan, hehe..) atau bahkan ketika bersama Reo sekali pun! Rasanya beda banget.

Dengan Keiza, aku ngerasa.. Ngerasa apa ya? Apa ya kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaanku? Susah nih, apalagi vocabulary bahasa Indonesiaku agak terbatas, terutama untuk bahasa yang baik dan benar. Kebanyakan gaul dengan Maia dan Najma membuat perbendaharaan kata dalam bahasa yang baik dan benar menjadi semakin berkurang. Bahasa mereka berdua kacau berat. Pokoknya, selama orang lain mengerti apa yang mereka maksud, itu udah cukup, hehe..

Comfort.

Mungkin itu kata yang paling mendekati untuk menggambarkannya. Tapi, ya itu tadi, comfortnya beda dengan comfort yang aku rasakan bareng Al atau Reo. Dengan Keiza rasanya semua lebih bebas. Dan lepas. Nggak ngerti ya? Sama, aku juga nggak ngerti. Bingung banget deh pokoknya.

Apa mungkin sebenarnya perasaan comfort yang beda itu timbul karena aku punya perasaan yang lebih kepada dia?

Hah? Wait, wait,wait… tadi aku ngomong apa? Perasaan lebih ke Keiza? Nggak deh. Kayanya nggak. Ngaco deh. Aku memang punya perasaan ke dia, tapi kayanya bukan perasaan yang kaya gitu deh.. (Engg.. tapi kok tiba-tiba aku nggak yakin ya?)

OK! Mungkin Keiza memang bukan tipe cowo yang dapat dikatakan menarik dengan hanya sekali lirik. Mungkin dia juga bukan tipe cowo idaman most of girls, yang tinggi, putih, ganteng. Tapi dia bisa dikatakan sangat menarik setelah menghabiskan 2 jam ngobrol bersamanya. Apalagi menghabiskan seharian dengannya. Keiza selalu nyambung dengan semua tema yang aku bicarakan, dari pelajaran, buku, film, politik (?) sampai trend fashion cewe! Pengetahuannya sangat luas, dan sepertinya dia menguasai betul apa yang dibicarakannya. Tipe cowo smart! Mungkin jika aku ikut kuiz Who Wants to be a Millionaire, aku akan memilih dia untuk pilihan phone a friend.

Tapi di sisi lain, dia juga tipe cowo jayus. Dia selaluu saja bercanda, melucu, dan bertingkah laku konyol. Seperti misalnya ketika di suatu rumah makan, dia bertanya kepada pelayannya, “Mas, ada jus alpukat ga?” Ketika sang pelayan mengangguk dan menjawab, “Ooh, ada mas!” Tiba-tiba Keiza berkata, “Oh, klo gitu saya pesen es teh manis aja deh satu..” Geblek kan? Atau ketika dia membeli roti di warung pinggir jalan, ia menyerahkan uang seribu kepada penjualnya sambil berkata, “Nih bu, ambil aja kembaliannya..” Padahal di plastik roti itu jelas-jelas tertulis ‘Harga Rp.1000’. Parah deh dia, cuek banget.

Tapi bukan berarti dia cuek terhadap semua hal lho, dia itu punya rasa sosial yang tinggi. Buktinya ia selalu memberi uang pengamen dan pengemis di jalan, bahkan penjual di jalan yang menurutnya mukanya memelas pun ia berikan uang, tanpa membeli barang jualannya! Ia juga selalu meninggalkan tip di tempat makan, tak peduli restoran bagus atau di warung nasi uduk pinggir jalan, karena menurutnya tip itu sangat berharga bagi para pekerja di tempat makan itu.

Di sisi yang lain lagi, dia juga suka mengirimkan poem-poem via sms, atau sms-sms seperti ini,

`God is so wise that He never created friends with pricetags, because if he had, I could never have afforded a PRECIOUS ANGEL LIKE YOU!`

atau

`When it hurts to look back..
and u r scared to look ahead..
Just look beside u.. Coz I’ll always be there 4 u..`

Itu berarti tipe cowo apa ya? Romantis? Apa gombal ya? Hehe.. Tapi dia sering sms ga penting juga sih. Jayus seperti biasa. Waah, pokoknya dia bisa jadi tipe cowo yang berbeda-beda deh. Tapi dari semua kepribadian Keiza yang ku tahu itu, yang paling aku suka dari Keiza adalah karena dia alim dan a positive person. Alim karena dia selalu mengajakku shalat sesegera mungkin setelah adzan, kalau pun di jalan, ia pasti mampir ke mesjid or mushalla terdekat. Dan dia juga hampir selalu berpuasa hari senin dan kamis. Keren kan? Jarang banget bisa nemu cowo kaya gitu di Jakarta! Dan positive person karena dia tipe orang yang selalu berpikir positif, terhadap apa pun, even if itu musibah untuk dia. Udah gitu, dia juga seakan punya karisma untuk mempengaruhi orang hanya dengan kata-katanya. Misalnya dia dapat menenangkan aku setelah aku ujian Moneter 2 -yang soal-soalnya membuatku stress berat!-, dan dia juga sepertinya memancarkan aura kebahagiaan, karena setiap bersamanya, tak peduli bagaimana suasana hatiku sebelumnya, dalam 10 menit pasti akan berubah menjadi senang, setidaknya dia selalu dapat membuatku tertawa dalam 3 menit.

Oh ya, satu hal lagi yang paling aku suka dari Keiza, dia tidak merokok!

Balik lagi ke perasaan beda tadi. Seperti tadi yang sudah sering kukatakan, aku tidak dapat menjelaskannya. Tapi yang pasti, aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, ke siapa pun juga, termasuk terhadap Reo! Yaaahh… beda! Rasanya beda banget dengan waktu aku dan Reo mulai saling berPDKT. We had chemistry. Setiap melihat, bertemu, bersama-sama Reo selalu ada kupu-kupu yang memenuhi perutku. Tapi aku tidak merasakan hal yang sama dengan Keiza. Nggak ada tuh kupu-kupu di perutku setiap ketemu Keiza. Yang ada cengiran-cengiran lebar gara-gara kejayusannya.

Aku percaya pada chemistry antar dua manusia. Nah itu yang tidak aku temui dan rasakan ketika bersama Keiza. Jadi, aku menarik kesimpulan bahwa aku tidak punya perasaan lebih ke Keiza. Wong, tanda-tanda alami itu nggak muncul kok..

Satu lagi, deep inside my heart, aku masih belum bisa dan masih belum rela jika tempat Reo di hatiku harus digantikan oleh orang lain. Pemikiran bodoh dan tolol memang, tapi aku tidak dapat menahan diriku untuk tidak merasa seperti itu. Reo was the perfect one for me. Aku tidak rela kalau ada orang, yang sebenarnya mungkin saja bisa lebih perfect, menggantikan tempat dia dihatiku. Aku merasa kalau hal itu terjadi, aku mengkhianati Reo. Dan aku benci banget pengkhianatan. Walaupun sebenarnya aku tahu bahwa I have to get over this as soon as possible. Tapi caranya bukan dengan mecari orang baru kan?

Aku mem-flashback pikiranku sejak pertama bertemu dengan Keiza. Pertama bertemu dengannya, di angkutan umum menuju kerumah, dia hendak ke rumah Al. Ia tidak mengendarai mobil karena ingin mengingat-ingat jalanan Jakarta coz dia baru pulang dari S2nya. Ia berhasil membuat orang sebelahnya untuk mematikan rokoknya, kesan pertama yang keren.

Kemudian, dua bulan setelahnya tak ada kabar, tiba-tiba ia sms, dan langsung menawari menemaniku ke Gramedia. Selama perjalanan hari itu, dia berhasil membuat a very good impression.

Kemudian bertemu lagi tanpa sengaja di Carrefour, yang membuatku agak heran karena dia beralasan membeli kripik kentang. Aku agak curiga kalau ia sudah merencanakannya, tetapi ternyata aku salah, karena ia berada di sana karena sedang mengurus Ice Cream Corner-nya. Aku benar-benar kaget ketika diberi tahu itu adalah tokonya.

Kemudian, sekali lagi tanpa sengaja bertemu di book fair, yang sekali lagi aku curiga Al telah mengaturnya. Ternyata, sekali lagi aku salah, karena yang menentukan pergi ke book fair hari itu adalah aku, dan sepanjang hari aku bersama Al dan ia tidak punya kesempatan untuk memberi tahu Keiza tanpa sepengetahuanku.

Dan terakhir, yang paling aku kaget, ketika mengetahui bahwa dosen tamu yang Maia dan Najma perdebatkan ternyata adalah Keiza. Uhm, well, sebenarnya siapa yang nyangka sih cowok kaya dia bisa jadi seorang dosen tamu? Emang sih udah S2, tapi dengan gayanya yang pecicilan seperti itu, siapa yang bisa ngebayangin? Bahkan Al sekali pun, saat aku beritahu bahwa Keiza menjadi dosen tamu langsung tertawa ngakak habis-habisan.

Baru kemudian Keiza menjelaskan mengapa dia bisa menjadi dosen tamu. Ternyata Pak Ferry, yang sebenarnya menjadi dosen mata kuliah itu, adalah saudara jauhnya. Dan beliau ingin supaya Keiza bagi-bagi pengalaman dan ilmu kepada mahasiswanya. Ternyata nggak sia-sia, kata Maia, anak-anak menjadi lebih excited. Dan, hampir semua yang ikut kelas itu, mengakui bahwa cara ngajar (atau transfer ilmu pengetahuan - istilah Pak Ferry) Keiza emang keren banget. Duh, jadi nyesel kenapa harus ngambil mata kuliah itu semester kemarin.. hehe..

Dan satu lagi, He really looked like different in his glasses. Beda deh, nggak kelihatan atau nampak kaya Keiza yang biasa, Keiza yang jayus dan pecicilan. Yaa gitu, kelihatan lebih intelek dan smart. Ternyata, dia sendiri mengakui bahwa emang sengaja pakai kacamata untuk menghasilkan imej seperti itu.. Namanya juga mau jadi dosen tamu, harus terlihat seperti itu lah.. biar disegani mahasiswa, hihi.. Males banget ya?

Pffph.. Lagi-lagi pikiranku melayang ke Keiza. Sudah dua hari dia nggak sms nih. Biasanya dia sering sms nggak penting yang jayus. Kemana ya, dia?

Duh, gini nih yang aku sebelin dari diriku.. Suka kangen kalau Keiza nggak sms atau nelpon. Mungkin sudah kebiasaan kali ya? Jadi begitu dia menghilang, rasanya kaya ada sesuatu yang kurang dalam hidupku (dan payahnya, hal ini nggak berlaku kalau misalnya Al atau Maia atau Najma yang bersikap seperti ini. Isn’t it weird?). Dan mulailah aku kelimpungan sendiri. Mau sms duluan tapi gengsi, tapi kalau nggak sms kok penasaran.. Mau sms tapi takut dikira punya perasaan lebih, tapi kalau nggak sms nanti malah uring-uringan sendiri. Susah emang. My heart has a mind of it’s own.

Tapi yang pasti, Keiza membuat banyak perubahan di dalam hidupku. Tidak terlalu kelihatan, memang. Tapi buatku itu berarti banget. Kaya misalnya dia kembali membuatku memandang dunia ini dengan positif, seperti yang selalu dia lakukan. Katanya semua yang terjadi di dunia ini pasti ada hikmah di baliknya. Klise dan emang pasaran sih, tapi ketika Keiza mengungkapkannya dan melihat bagaimana dia memaknai hidupnya dengan hal-hal kecil yang mungkin kita melihatnya tidak berarti, tapi ternyata hal-hal kecil itulah yang memberikan kebahagiaan hidup untuk dia. Aku belajar banyak banget dari dia. Cara dia memandang dan menjalani hidup beneran bisa membuat orang lain terkagum-kagum.

Dari situ aku merasa Tuhan mengirimkan seseorang untuk membantuku melewati masa-masa suram dalam hidupku, sampai akhirnya kini hidupku berwarna lagi.. Dikirim melalui Keiza. Yah, sukses banget. Buktinya sekarang aku seperti addicted dengan cowok itu. Suka kangen kalau nggak ketemu beberapa hari.. Ooops, confession deh..

Dan sejujurnya, sebenarnya aku benar-benar tidak tahu perasaanku gimana..

Kok tiba-tiba aku takut banget ya punya perasaan lain terhadap Keiza?

…. Jatuh cinta terhadap Keiza –dengan kepribadiannya yang sangat mengesankan- adalah hal mudah yang bisa dilakukan oleh siapapun..

…. Dan aku termasuk salah satu diantara orang-orang tersebut.

Damn, damn, damn.

Duh, sebenarnya ada ke-inkonsistensi-an di dalam hatiku nih..

Dilemma yang sangat besar.

…..

…..

…..

…..

…..

I have to admit that..

That

Kalau nggak mau membohongi diri sendiri dengan penyangkalan yang memakan banyak energi, aku harus mengakui bahwa…

bahwa…

aku punya perasaan lain terhadap Keiza.


Apakah aku harus mengakui perasaan ini dan menempuh segala resikonya? –mungkin aja kan Keiza nggak berperasaan sama denganku-

Atau apakah aku harus tetap seperti sekarang? I’m safe. Don’t do anything, then I’ll never get hurt again…

Astaga, aku rasa aku benar-benar sedang jatuh cinta…

So then, what am I suppose to do?