My 1st Nov..

Friday, October 07, 2005

Bab I

- T r i s h a -

Bab I
It is very Hard to Lose Someone


Hari ini pemakaman Reo.

Aku menahan isak tangisku. Disebelahku, Al, berusaha menenangkanku dengan mengelus kepalaku.

“Stt, udah dong Sha.. Jangan nangis terus.. Kasian Reo-nya! Ntar dia ga tenang perginya..”

“Tapi Al.. Hiks,hiks.. Kenapa? Kenapa harus Reo?”

“Trisha, u know what? Every beginning has its end. Semua yang bernyawa pasti mati..”

“Iya Al, gwe tau.. Tapi kenapa Reo? Kenapa sekarang?”

“Hmph, klo itu gwe ga tau. Tuhan emang udah menakdirkan kaya gitu, jadi lo mesti nerima.. Ok Sha? Jangan nangis lagi ya.”

“Hiks.. Iya Al, gwe ngerti.. Kita pulang yuk! Tapi gwe pamit ke keluarga Reo dulu ya..”

Al mengangguk. Aku berjalan menuju ibu Reo, ia menangis dan memelukku, kemudian aku menjabat tangan ayah Reo dan pamit pulang. Sepanjang perjalanan pulang, di mobil Al aku diam saja.

`Cause I am hanging on every word you're sayin'

Even if you don't wanna speak tonight, that's alright, alright with me

Cause I want nothing more than to sit outside Heaven's door

And listen to you breathing, it's where I wanna be, yeah...

Where I wanna be...


Lagu Breathing Lifehouse mengalun di radio, dan aku kembali menangis. Kali ini Al diam saja, dan terus diam sampai didepan rumahku.

“Sha, udah nyampe. Mau gwe anter masuk?” kata Al tanpa ekspresi.

Aku menggeleng. “Ga usah Al, makasih.. Gwe duluan ya..”

Aku turun, membuka pintu rumah yang tak terkunci dan langsung berjalan menuju kamarku. Tangisku kembali tumpah, dan aku terus menangis sampai tertidur.

-xoxoxox-


“Trisha..!! Ada telepon nak,” teriakan mama dari bawah membangunkanku.

“Siapa ma?” tanyaku dengan suara agak serak.

“Al..”

“Iya ma, sebentar..”

“Halo.. Ada apa Al?” kataku setelah mengambil gagang telepon dimeja.

“Hmph, ga ada apa-apa sih. Gwe cuma mengkhawatirkan lo aja. Lo udah baekan?”

“Ooh.. Hmph, gwe udah ga-pa-pa kok! Thanx ya..”

“Hmm, bagus deh klo gitu.. Eh, besok lo mau kemana? Jalan-jalan yuk..”

“Aduh Al, maaf ya.. Gwe masih males kemana-mana..”

“Ooh, ya udah.. Ga-pa-pa kok! Eh, ya udah deh! Nyokap gwe manggil!”

“Ya udah.. OK deh, dagh Al.. Makasih ya..”

It’s OK. Ya udah dey, bye..”

Klik. Gagang telepon kukembalikan ketempatnya. Aku berjalan kekamar lagi.

“Trisha, makan dulu yuk nak,” kata mama yang tiba-tiba muncul dari arah dapur.

“Nggak deh ma.. Trisha lagi ga nafsu makan!”

“Trisha.. Kamu jangan sedih terus dong! Masa dari kemarin belum makan..”

“Trisha udah ga-pa-pa kok mah.. Tapi emang bener, Trisha ga laper..”

Mama hanya menghela nafas saja. Aku kembali kekamarku. Aku sudah tidak menangis lagi, aku menyetel CD Bon Jovi, band kesukaan Reo. Aku duduk didepan meja belajarku dan mulai menulis. Aku memang hobi menulis. Terutama jika sedang sedih seperti ini, aku menulis. Menulis apa saja, tapi biasanya aku menulis puisi. Dengan begitu aku bisa merasa lega.


I've got a reason to be sad,

I've got a reason to feel like I've been had,

Coz I’m now broken in a million pieces..


I feel like I can’t face one more mile

Coz I know you won’t be coming home again

It makes me feel so afraid of the unknown


Here I am..

Lying all alone staring at the star

Wishing you –


“Trisha.. Boleh mama masuk nak?” tiba-tiba mama muncul di pintu kamarku.

“Iya, boleh.. Ada apa ma?” aku berhenti menulis dan berjalan ke tempat tidurku.

“Nggak, mama cuma mau ngeliat keadaan kamu aja.” kata mama sambil duduk disebelahku.

“Trisha udah ga apa-apa kok ma, mama tenang aja..”

“Iya, mama tau.. Mama cuma kepingin berduaan aja sama kamu, kan udah lama kita ga ngobrol berdua.. Ya kan?”

Aku terdiam. Dulu waktu aku SMP dan SMU aku sering bercerita dengan mama setelah pulang sekolah atau setelah makan malam. Tentang apa saja; sekolah, teman-teman, gebetan atau pun pacarku. Tetapi sejak masuk kuliah aku jarang melakukannya lagi, bahkan hampir tidak pernah karena aku sering pulang malam dan terlalu capai untuk bercerita.

“Hmm, iya ya ma.. Trisha jarang cerita ke mama lagi sejak kuliah.” sadarku.

“Iya.. Kamu pulang malem terus sih, jadi jarang cerita lagi sama mama..”

Aku mengangguk, dan sepanjang malam itu aku habiskan dengan mengobrol dengan mama, yang ternyata membuat keadaanku lebih baik.

-xoxoxox-


Sebenarnya hari ini aku malas kuliah, tetapi karena adanya sms dari teman-temanku, yang tentunya menanyakan kabarku, yang datang bertubi-tubi selama dua hari ini, mau tidak mau aku harus datang ke kampus hari ini demi memperlihatkan kepada mereka bahwa aku baik-baik aja (Truthfully, it’s a lie! Mana mungkin ada orang yang ditinggal pergi oleh orang yang dia sayangi, dalam jangka waktu dua hari dia udah baik-baik aja? Hmph, kalaupun ada, it is sure not me..).

Aku baru saja selesai berpakaian dan kemudian menuruni tangga ketika kulihat Al sedang duduk di sofa ruang tengah. Dengan kemeja hitam dan jeans-nya, Al tampak rapi, tetapi tentu itu bukan pakaian kerja. Humph, tumben! Ngapain Al ke sini pagi-pagi, bukannya ke kantor?

“Ga kerja Al? Ngapain kesini pagi-pagi?” tanyaku sambil mengambil sepotong roti, menawarkannya kepada dia, “Udah sarapan?”

Al mengangguk pelan. “Udah tadi. Lo makan aja.”

Aku hanya mengangkat bahu. “Eh, tadi pertanyaan gwe belom dijawab! Kok lo ga kerja? Dan ngapain juga lo kesini pagi-pagi?” Tiba-tiba mamaku muncul dari dapur dengan membawa sepiring nasi goreng dan berkata, “Mama yang nyuruh Al datang kesini. Mama minta tolong dia untuk ngantar kamu ke kampus pagi ini. Habis, mama khawatir ngebiarin kamu pergi sendirian ke kampus..”

Aku mengernyit, kemudian kulirik Al, dia hanya mengangkat bahu sambil tersenyum pasrah. “Aku kan bisa sendiri ma, masa mama nggak yakin sama aku? Selama ini juga aku kemana-mana sendiri.. Lagipula kan kasihan Al, emangnya dia nggak ke kantor? Jarak Depok - Bintaro kan nggak cuma tiga kali nafas nyampe..”

“Al hari ini ga kerja kok Sha. Katanya dia dapat hadiah day-off dari bosnya karena kemaren abis ngebantu bos-nya” sela mama dengan cepat, lalu menoleh ke arah Al, “Iya kan, Al?” tanya mama meminta persetujuan.

Sekali lagi kulirik Al, dan dia lagi-lagi hanya tersenyum pasrah.

“Ya udah, aku ada kuliah jam sebelas, aku berangkat sekarang aja deh ma..” pamitku setelah berusaha menjejalkan sepotong besar roti ke dalam mulutku. Bisa gawat kalau mama melihat aku tidak sarapan sama sekali sebelum berangkat kuliah. Jadi, walaupun aku benar-benar nggak nafsu untuk makan, kupaksa juga menelan roti itu. Biar sisanya Al yang makan di tengah jalan nanti, pikirku.

Setelah pamit kepada mama, beberapa saat kemudian aku dan Al sudah berada di tengah-tengah ramainya lalu lintas Jakarta, tentunya di dalam sedan mungilnya si Al.

“Emang lo beneran dapet day-off?” tanyaku sambil berusaha mencari-cari gelombang radio yang pas dan enak untuk didengar. “Apa jangan-jangan cuma gara-gara nggak enak aja sama nyokap gwe?”

Al nyengir. “Hehe, ya boong lah! Mana mungkin bos gwe ngasih day-off! Ga-pa-pa, buat lo, apa sih yang ngga? Hehe..”

“Yakin lo?” aku bertanya dengan curiga. “Gini aja deh, lo turunin gwe di perempatan depan, temenin gwe nungguin bis, terus lo ke kantor deh. Gwe janji nggak akan bilang sama nyokap kalau lo nggak nganterin gwe sampe kampus.”

Al memutar setir ke kiri, setelah jalanan agak sepi, baru dia berkomentar. “Trus, ngebiarin lo pergi sendiri gitu? Dalam keadaan kaya gini? Hoho, nggak akan. Gini-gini gwe adalah salah satu contoh pria yang bertanggung jawab, non! Lagipula, lo ga ngeliat dandanan gwe? Dan jam berapa sekarang? Gwe harusnya masuk jam 9 tau!”

Mau nggak mau aku nyengir. “Yaaa, tapi gwe kan nggak enak sama lo, Al. Masa gara-gara gwe, lo sampai ngorbanin gaji lo dipotong. Berapa sih? 75 ribu ya? Gini-gini gwe juga termasuk cewek yang bertanggung jawab, nggak mau ada orang lain rugi hanya gara-gara gwe..”

“Yakin lo?” tanyanya dengan ekspresi ga-mungkin-lo-kya-gitu. “Ntar kalo gwe biarin naik bis sendiri, trus lo tiba-tiba kepikiran buat bunuh diri gimana?” lanjutnya dengan wajah yang ngeselin banget.

Aku langsung mencibir. “Enak aja!!” semprotku. “Gwe nggak sebegitunya kali..”

Lagi-lagi Al hanya nyengir. “Sorry non, gwe juga nggak pernah berpikir seburuk itu kok. I just worry about you.. Lagipula emangnya keperluan gwe cuma nganterin lo doang?”

Aku menoleh, “Emangnya ada keperluan apa lagi?” tanyaku penasaran.

Wajah Al tiba-tiba menjadi sangat serius. Tatapannya lurus ke arah jalan. Seketika aku menjadi khawatir menunggu jawabannya. Dan setelah diam sejenak, “Ya mau ngegebet cewek-cewek laaahhh.. Emangnya mau apalagi lo kira?”

Mendengar jawabannya, aku langsung tertawa. Lepas.

Tawa pertama dalam tiga hari.

-xoxoxox-


Aku menatap wajah-wajah teman-temanku. Tatapan mereka sama semua, kasihan. Satu-dua ada yang berusaha menyapa. Say sorry to hear that. Ada juga yang memelukku. Aku hanya mencoba tersenyum. Dan ketika kulihat sosok Maia dan Najma –dua sahabatku- di depan ruang kuliahku, aku lekas mempercepat ayunan langkahku.

Belum sempat aku menyapa, lengking teriakan Maia sudah terdengar. “Trishaaa!! Ya ampuuun, lo masuk hari ini?”

Sekejap saja langkahku terhenti. Malu juga dilihat oleh orang-orang lain yang langsung menyadari kehadiranku akibat teriakan Maia. Sementara kulihat Najma langsung membalikkan badan, pura-pura nggak kenal.

Kebiasaan.

Tapi Maia nggak peduli, dia langsung berlari menghampiri dan memelukku. “Hai, gwe pikir lo baru masuk minggu depan. Padahal ntar siang gwe sama Najma mau ke rumah lo lho.. Najma malahan udah bikin makanan buat lo. Nah, berhubung lo ternyata masuk hari ini, ya.. jalan satu-satunya makanan itu buat gwe. Hwehehe..”

Aku hanya bengong menatap sahabatku itu.

Dan tampaknya Maia menyadari sesuatu, “Aduuhh, maaf ya Sha.. Kayanya gwe nggak berempati banget ya sama lo.. Beneran maksud gwe nggak begitu kok.. Gwe ngerti kalo lo masih sedih, aduh, maafin gwe ya..”

Aku tersenyum. “Santai aja Non, nggak apa-apa kok” kataku menenangkan dia. Maia menatapku dengan pandangan menyelidik, “Yakin lo nggak apa-apa?”

Aku mengangguk yakin.

“Udah nggak sedih?” tanyanya polos.

Dan datanglah Najma menjitak kepala Maia dengan sadis. “Bukan itu maksudnya, bodoh!” lalu dia berpaling ke arahku, “How’s life Sha?” tanyanya lembut.

Karena nggak tahu harus bilang apa, aku hanya tersenyum dan mengangkat bahuku. “You see.. Life must still go on, and here I am..

Najma membawaku ke salah satu bangku yang kosong. Setelah beberapa saat dalam diam, kemudian dia memecahkan suasana. “Are you sure you’re okay?”

Aku diam saja. Nggak tahu harus berkata apa. Ingin bilang bahwa aku baik-baik saja, itu nggak mungkin, karena pada kenyataannya hatiku memang hancur, sehancur-hancurnya. Rasanya nggak pernah bisa dijelaskan dengan kata-kata. Kalaupun aku bisa menjelaskannya, aku nggak yakin Najma atau Maia atau siapapun akan bisa mengerti perasaanku ini. Mereka nggak akan pernah mengerti sampai mereka mengalaminya sendiri. Dan aku juga nggak terlalu berharap bahwa mereka bisa mengerti perasaanku ini.

Seakan bisa membaca pikiranku, Najma berkata pelan, “Sha, gwe tau, gwe nggak bisa bilang bahwa gwe mengerti bagaimana perasaan lo karena sesungguhnya gwe nggak akan pernah mengerti sampai gwe mengalaminya sendiri.. Tapi lo nggak bisa bersedih terus kaya gini, sementara lo punya kehidupan sendiri yang harus lo jalanin..”

Aku terdiam. Kemudian terisak pelan.

Najma membelai lembut kepalaku. “Sha, nangis aja. Nggak ada yang ngelarang lo untuk nangis. Tapi jangan sampai lo tenggelam dalam kesedihan lo sendiri sampai lo ngebuat orang-orang lain yang peduli dan sayang sama lo jadi sedih.. Nyokap lo semalem nelepon gwe, katanya lo udah dua hari ini nggak mau makan nasi ya? Jangan gitu Sha, Reo juga nggak mau ngeliat lo kaya gini. Kalau kaya gini, lo cuma nyakitin diri lo sendiri aja..”

“Al juga nelpon gwe, dia khawatir banget sama lo. Dia nitip ke gwe supaya ngejagain lo selama di kampus. Bayangin Sha, semua orang care sama lo, tapi kenapa lo nggak care sama diri lo sendiri?”

Aku makin terisak, “Kalau semua orang care, kenapa Reo ninggalin gwe Ma? Kenapa dia pergi padahal dia janji mau selalu nemenin gwe? Selalu ngejagain gwe? Kenapa sekarang dia pergi? Kenapa harus dia Ma?” aku hampir histeris.

Langsung saja Maia dan Najma mendekap aku erat-erat. “Ssshh… Lo nggak boleh ngomong gitu Sha.. Lo nggak boleh, kita nggak boleh ngelawan kehendak Tuhan. Reo pergi, karena itu memang saatnya untuk pergi.. God must have a best plan for him..

“Tapi dia ninggalin gwe Ma..”

“Bukan cuma lo, Sha, yang ditinggalin. Gwe, Maia, keluarganya, temen-temennya, semuanya juga ditinggalin.. Tapi mereka bisa menerima, Sha, karena memang udah jalannya. Kalau mereka, keluarganya, nyokapnya aja bisa nerima, kenapa lo nggak bisa?”

“Gwe nggak siap..”

“Lo harus siap. Itu udah terjadi.”

Isakanku makin keras. Tapi Najma dan Maia nggak melakukan apa-apa. Mereka hanya memelukku dengan penuh perasaan sayang.

Let him go, Sha.. let him go..” bisik Najma.

Aku memejamkan mata dan menangis.

-xoxoxox-


Ini malam ketujuh tanpa Reo.

Aku sudah tidak menangis lagi. Benar kata Najma, aku harus rela melepas Reo pergi. Walaupun berat, aku tahu bahwa aku harus berusaha. Mataku masih sembab akibat menangis berhari-hari. Tapi aku janji pada diriku sendiri kalau aku tidak akan menangis lagi. Pasti Reo sedih kalau melihat aku terus-terusan kaya gini.

Jadi hari ini aku memasukkan semua barang-barang yang mengingatkan akan Reo ke dalam kardus. Bukan,bukan untuk dibuang, hanya disimpan agar membantuku lebih cepat untuk melupakan Reo, membantuku agar lebih mudah melalui ini semua. Mungkin suatu saat nanti, saat aku sudah siap, aku bisa membuka kardus ini lagi tanpa perasaan kehilangan yang menyakitkan seperti pada hari ini.

Kupandangi foto yang terdapat wajah Reo yang tersenyum bahagia. It seems a long-long time ago. Aku bersyukur pernah mengenalnya. Dia begitu berarti karena selalu mewarnai hari-hariku sehingga menjadi begitu penuh kejutan. Semua perasaan ada disana. Dari sedih, bahagia, sebel, kesel, marah, sampai terharu, semuanya pernah aku alami bersama Reo.

And once I ever thought that he was my sunshine.

But I was wrong.

Now I know, he was just my rainbow.

And my sunshine is waiting for me out there.



0 Comments:

Post a Comment

<< Home